Palembang, Sumatera Selatan [DESA MERDEKA] – Pers di daerah tidak boleh lagi hanya menjadi pemandu sorak birokrasi. Pelantikan pengurus DPD dan DPC Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (AKPERSI) Sumatera Selatan periode 2026–2031 di Palembang menjadi alarm keras bagi para pemburu berita untuk kembali ke jalur integritas. Jika jurnalis di 10 kabupaten/kota tetap loyo, maka informasi pembangunan di pelosok desa akan terus terkubur oleh narasi kosong.
Rangkaian Musdalub hingga pelantikan yang dihadiri tokoh nasional dan daerah ini menegaskan satu hal: profesionalisme pers adalah harga mati. Kehadiran Asisten Penasihat Khusus Presiden, Dr. Suyono Thamrin, menunjukkan bahwa jurnalis daerah punya peran vital dalam mengawal sektor energi dan sumber daya mineral yang seringkali bersinggungan langsung dengan lahan dan hak-hak masyarakat desa.

Pers Daerah: Garda Depan atau Sekadar Stempel?
Ketua Umum AKPERSI, Rino Triyono, menantang pengurus baru untuk tidak terjebak dalam agenda seremonial belaka. Fokus pada peningkatan kompetensi dan sertifikasi profesi adalah satu-satunya jalan agar pers daerah tidak dianggap remeh. Di tengah derasnya arus digital, Sumatera Selatan dituntut menjadi contoh ekosistem pers yang independen dan berintegritas.
Struktur baru yang dipimpin oleh M. Yusron Afifi harus mampu menghadirkan program kerja nyata yang berdampak hingga ke akar rumput. Jurnalis di tingkat DPC, mulai dari Musi Banyuasin hingga OKU Timur, memikul tanggung jawab besar sebagai pilar demokrasi yang harus berani bersuara objektif demi kemajuan bangsa.
Sinergi Tanpa Kompromi Harga Diri
Apresiasi pemerintah terhadap peran strategis AKPERSI harus dibayar dengan kualitas karya jurnalistik yang bermutu. Jurnalis diharapkan menjadi jembatan informasi yang cerdas secara intelektual namun tetap memegang teguh marwah profesi. Sinergi dengan pemerintah daerah dan kepolisian bukan berarti pers kehilangan taringnya dalam melakukan fungsi kontrol sosial.
Dengan pengucapan sumpah jabatan yang khidmat, AKPERSI Sumsel kini resmi memiliki mandat untuk membersihkan ekosistem informasi dari praktik jurnalisme abal-abal. Tantangan digital sudah di depan mata; pilihannya hanya dua: menjadi pers yang maju untuk Indonesia atau tenggelam dalam arus informasi yang menyesatkan.
misru Ariyanto jurnalis desamerdeka, saat ini menjabat sekretaris parade Nusantara DPD kabupaten Bekasi


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.