Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

RAGAM · 20 Jan 2026 21:08 WIB ·

Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 17: Konflik dan Rekonsiliasi


					Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 17: Konflik dan Rekonsiliasi Perbesar

 

Setiap kampung mempunyai denyut hidupnya sendiri. Ia tidak selalu terdengar oleh telinga, tetapi terasa oleh hati yang mau mendengar. Di Lembah Pusako, denyut itu bergetar di antara gemericik batang air yang jernih, di bawah naungan surian yang telah tua usianya, dan dalam dengung azan magrib yang melayang dari surau di kaki bukit. Di sanalah kehidupan berdiam—pada dada ninik mamak yang setia menjaga marwah adat, dan pada langkah anak nagari yang sedang mencari arti zaman.

Namun hidup, sebagaimana manusia, tidak pernah berjalan lurus tanpa gelombang. Kadang denyut itu tersentak: oleh perubahan yang datang terlalu cepat, oleh pertemuan antara yang tua dengan yang muda, antara yang ingin memelihara warisan dan yang berhasrat menjemput masa depan.

Begitulah Lembah Pusako pada suatu masa. Kabut pagi turun seakan enggan beranjak, seolah turut menyimpan keresahan nagari. Selama berbulan-bulan, hubungan antargenerasi terasa renggang. Anak nagari hendak membangun lapangan budaya dan pusat belajar digital di balai adat—sebuah ikhtiar agar kampung tidak tertinggal. Tetapi sebagian ninik mamak memandang langkah itu sebagai tergesa, khawatir adat akan tergerus oleh gemuruh zaman.

Sore itu, Balai Adat yang berdinding papan surian dan berlantai kayu tua dipenuhi orang. Di sana duduk dua zaman dalam satu ruang: ninik mamak bersaluak, bertongkat, wajahnya tenang oleh pengalaman; dan para pemuda bersarung, bersweater, dengan ponsel di saku—mata mereka menyala oleh harapan.

Raka, anak nagari yang baru pulang dari rantau, berdiri di tengah. Di sampingnya, Sari, guru muda di surau kampung, menatap hadirin dengan wajah teduh.

“Urang sumando, niniak mamak, dan saudara-saudara muda,” kata Raka dengan suara tertahan hormat, “kita duduk di balai ini bukan untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah, melainkan untuk mencari jalan elok agar nagari kita tetap hidup di tengah perubahan.”

Hening menyelimuti ruangan. Dari barisan depan, Datuk—mamak tuo yang disegani—berkata dengan suara berat namun penuh makna, “Anak kamanakan, kami tidak menolak kemajuan. Tetapi ingatlah, adat itu adalah akar. Bila akar diputus, batang takkan tumbuh, dan pucuk takkan berbuah.”

Kata-kata itu jatuh seperti petatah lama yang telah diuji oleh waktu. Namun ketua pemuda pun bangkit, menunduk hormat. “Benar, Datuk,” katanya, “tetapi bila kita hanya menjaga akar tanpa menumbuhkan cabang, pohon itu takkan memberi teduh. Dunia telah berubah. Jika anak muda tak diberi ruang, mereka akan pergi, dan nagari akan sunyi.”

Beberapa ninik mamak menunduk, yang lain saling pandang. Sari lalu berkata pelan, seolah berbicara kepada hati, “Barangkali yang kita cari bukan akar baru, melainkan cara baru untuk menyiram akar yang sama.”

Perdebatan mengalir seperti sungai di musim hujan—deras, jujur, dan kadang membawa lumpur. Kaum tua cemas adat akan tergerus, kaum muda takut masa depan terlewat. Seorang mamak bersuara, “Festival yang kalian adakan itu terlalu ramai musik kota. Di mana talempong kita? Di mana dendang pusako?”

Raka menarik napas. “Datuk,” katanya perlahan, “tradisi bukan batu yang diam di tepi sungai. Ia seperti air—mengalir mencari jalan, tetapi tetap jernih bila hulunya dijaga.”

Sunyi kembali turun. Sari melanjutkan, “Bagaimana jika setiap kegiatan nagari dijalankan berpasangan: seorang mamak, seorang anak muda? Supaya ilmu yang tua dan semangat yang muda berjalan seiring.”

Usul itu bergaung lembut. Datuk masih berkata lirih, “Menyatukan dua pandangan ini seperti menanam padi di tanah berbatu.”

Sari tersenyum. “Namun padi tumbuh bukan karena tanah semata, Datuk, melainkan karena kesabaran tangan yang menyianginya.”

Ketegangan mencair. Senyum-senyum kecil merekah—tanda hati mulai bertemu.

Dua minggu kemudian, kesepakatan itu menjelma kerja. Saluran irigasi lama diperbaiki. Para pemuda membawa alat ukur, para mamak menunjukkan letak batu penahan air yang diwariskan ingatan. Di bawah matahari, dua generasi bekerja bersama: satu dengan tenaga, satu dengan kebijaksanaan.

Suatu sore, Datuk menghampiri ketua pemuda. “Nak,” katanya sambil memandang air yang mengalir jernih, “dulu kami pun ingin membalik dunia. Tapi akhirnya kami tahu, dunia berubah hanya bila kita paham dari mana langkah bermula.”

Pemuda itu mengangguk. “Saya belajar, Datuk, bahwa menjaga adat bukan berarti menutup pintu masa depan.”

Beberapa hari kemudian, Balai Adat kembali ramai—bukan oleh debat, melainkan oleh kesenian. Talempong berdenting bersahut dengan gitar. Dendang lama bersua lagu baru. Anak-anak menari galombang, langkahnya lentur oleh sentuhan zaman.

Para ninik mamak tersenyum. Tradisi tidak mati. Ia hanya berganti wajah.

Raka menatap panggung. “Ketika kita berhenti saling menuding,” katanya pelan kepada Sari, “yang lahir bukan sekadar sepakat, melainkan kehidupan.”

Sari memandang lentera yang bergoyang diterpa angin gunung. “Itulah rekonsiliasi,” katanya, “bukan hanya damai, tetapi saling mengerti.”

Malam itu, di bawah cahaya bulan yang lembut di atas gonjong rumah gadang, tua dan muda menari dalam satu lingkaran. Tiada batas, tiada curiga. Hanya bunyi talempong, tawa yang jujur, dan angin lembah yang membawa pesan lama:

Bahwa adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah bukanlah batu yang beku, melainkan napas yang hidup di hati manusia yang mau saling mendengar.

Lembah Pusako pun kembali berdetak tenang—seperti batang air yang mengalir dari kaki bukit, singgah di sawah, lalu menetap sejenak di hati orang-orang yang masih mencintai kampungnya.

(DA)

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 36 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Etika Jurnalisme: Pilar Penjaga Marwah Pembangunan dari Desa

3 Mei 2026 - 12:13 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 27: Pariwisata Ramah Lingkungan

3 Mei 2026 - 09:57 WIB

Kepala Desa Jarang Ngantor Jadi Ancaman Serius Pembangunan

24 April 2026 - 22:13 WIB

Ekonomi Digital Desa: Koperasi Merah Putih Tembus Pasar Dunia

23 April 2026 - 09:32 WIB

Asa dari Kalaotoa: Saat Bupati Peluk Keluhan Warga

22 April 2026 - 10:54 WIB

Optimisme Petani Selayar: Jagung Bersemi, Kelapa Menanti Data

21 April 2026 - 18:24 WIB

Trending di RAGAM