Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 8 Jul 2024 01:35 WIB ·

Janji Lestarikan Budaya Banyumas, Ruwat Sukerta Puncaki Festival!


					Janji Lestarikan Budaya Banyumas, Ruwat Sukerta Puncaki Festival! Perbesar

Banyumas [DESA MERDEKA] – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas menepati janjinya untuk melestarikan warisan budaya leluhur melalui Festival Banjoemas Kota Lama. Festival yang berlangsung sejak Jumat, 5 Juli 2024, mencapai puncaknya dengan acara Ruwat Sukerta pada Minggu, 7 Juli 2024. Bertempat di Halaman Bale Adipati Mrapat, Kawasan Banjoemas Kota Lama, Kecamatan Banyumas, ritual ini diikuti oleh 18 peserta berkategori sukerta. Mereka terdiri dari ontang anting, tunggak aren, pancuran kapit sendang, kedhana kedhini, dan kelungse.

Penjabat (Pj) Bupati Banyumas, Hanung Cahyo Saputro, menegaskan bahwa Ruwat Sukerta menjadi bagian akhir dari rangkaian tiga hari perayaan budaya di Kota Lama Banyumas. “Ini merupakan rangkaian tiga hari event budaya di Kota Lama Banyumas,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa kegiatan ini adalah warisan nilai budaya dari para leluhur yang wajib dilestarikan. “Hari ini kita akan melaksanakan ruwat untuk menghilangkan Sukerta,” imbuhnya. Hanung Cahyo Saputro memiliki harapan besar agar acara ini menjadi agenda budaya tahunan. Tujuannya adalah untuk mengangkat potensi pariwisata di Kabupaten Banyumas.

Dalam jalannya prosesi ruwat, para peserta terlebih dahulu menjalani ritual mandi kembang setaman. Setelah itu, mereka membalut tubuh dengan kain putih. Kemudian, acara dilanjutkan dengan upacara potong rambut sebagai simbol pembuangan kesialan. Tak ketinggalan, para peserta melakukan sungkeman untuk memohon doa restu kepada orang tua. Selama prosesi berlangsung, alunan musik rebana mengiringi gerak gemulai penari dari Sanggar Tari Panjimas Banyumas yang membawakan Tari Murwo Kolo.

Pembina Sanggar Tari Panjimas Banyumas, Suyati, menjelaskan makna tarian tersebut. “Murwo Kolo adalah tari ruwatan untuk membuang Sukerta atau kesukaran dalam hidup,” terangnya. Tarian ini diiringi musik rebana dengan lirik yang berisi permohonan kepada Tuhan. Harapannya adalah agar diberikan kesehatan, kelancaran, serta kebahagiaan dalam menjalani kehidupan.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Fendi Rudianto, menambahkan bahwa Ruwat Sukerta menjadi penutup rangkaian acara Festival Banjoemas Kota Lama. Selama festival, para pengunjung memiliki kesempatan untuk berinteraksi dan belajar mengenai budaya Banyumasan. Selain itu, mereka dapat menyaksikan berbagai pementasan seni dan atraksi budaya dari 12 desa penyangga Kawasan Banjoemas Kota Lama. Pameran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta Tour Banjoemas Kota Lama yang menampilkan bangunan bersejarah dengan gaya kolonial, Tionghoa, dan Jawa juga turut memeriahkan festival ini.

“Ruwat Sukerta adalah puncak acara,” tegas Fendi Rudianto. “Ini merupakan ritual budaya untuk membuang sial atau sengkala dengan tradisi khusus.” Ia juga menyampaikan bahwa pada tahun ini, terdapat 18 orang yang menjalani ritual ruwat. Menariknya, tiga di antaranya berasal dari luar kota, yaitu Temanggung.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 120 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menjaga Hutan Lewat Tradisi Krapyak Saparan di Bonosari

24 Juli 2026 - 14:02 WIB

Merah Putih Bung Karno di Builaran, Berdayakan Ekonomi Kaum Marhaen

22 Juli 2026 - 17:51 WIB

Cahaya Lilin Rumah Sederhana yang Menghidupkan Batik Singosari

17 Juli 2026 - 14:28 WIB

Kebangkitan Batik Singosari

UMKM Lokal Hidupkan Festival Kuliner 100 Tahun Jam Gadang

21 Juni 2026 - 22:20 WIB

Ritual Sedekah Gunung, Kekuatan Budaya Warga Desa Lencoh

18 Juni 2026 - 04:22 WIB

Muharam di Desa: Momentum Revolusi Mental dan Etos Kerja

17 Juni 2026 - 15:31 WIB

Trending di SOSBUD