Serang, Banten [DESA MERDEKA] – Harapan warga Pulau Tunda, Kabupaten Serang, untuk menikmati terang benderang dari energi surya berakhir dalam redup. Sebuah proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 50 kWh yang baru dibangun pada 2018 kini terbengkalai. Mirisnya, kegagalan megaproyek ini bukan disebabkan oleh faktor alam, melainkan kesalahan teknis yang fatal: ketidakcocokan komponen baterai.
Pantauan di lokasi pada akhir Oktober 2021 menunjukkan pemandangan memprihatinkan. Panel surya yang seharusnya menyerap energi matahari kini justru “dikerubuti” rumput alang-alang. Pelat nama proyek bahkan dihancurkan warga sebagai simbol kekecewaan karena fasilitas tersebut hanya berfungsi selama delapan bulan, jauh dari ekspektasi usia pakai minimal lima tahun.
Kesalahan Teknis yang “Mematikan”
Pakar Energi Terbarukan, Andre Susanto, mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan. Kerusakan masif pada PLTS tersebut terjadi karena penggunaan tipe baterai yang tidak sesuai dengan desain sistem pengisian (charger).
“Baterainya tidak didesain untuk PLTS yang ada. Perangkat PLTS dunia bahkan belum mengakui baterai merek Fluidic tersebut bisa dipakai untuk charger mereka. Hasilnya, alat hanya kuat bertahan beberapa bulan sebelum rusak total,” jelas Andre.
Sebaliknya, PLTS lama berkapasitas 25 kWh yang dibangun tahun 2013 justru masih bertahan meski sudah berusia delapan tahun. Perbedaan terletak pada penggunaan baterai NS yang terbukti kompatibel dengan sistem kontrol pengisian surya.
Hidup Terbatas dalam Penjatahan Daya
Akibat mangkraknya unit 50 kWh tersebut, warga Desa Wargasara kini hidup dalam penjatahan energi yang ketat. Listrik hanya tersedia untuk kebutuhan sangat mendasar seperti lampu dan televisi.
Kepala BUMDes Wargasara, Jarwo, menjelaskan bahwa warga kini harus bergantung kembali pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) swadaya dengan jatah solar 120 liter per malam. “Warga saat ini hanya diberi daya 550 watt dengan biaya Rp3.500 per malam. Itu pun jam 3 pagi sering sudah mati,” ungkapnya.
Padahal, pola hidup masyarakat Pulau Tunda sudah bergerak semimodern. Kebutuhan alat elektronik seperti pompa air, dispenser, dan kipas angin membutuhkan daya minimal 1.000 watt agar listrik bisa mengalir hingga sore hari.
Menunggu Anggaran 2023
Kepala Desa Wargasara, Hasim, mengaku sudah mengajukan permohonan penggantian baterai kepada Pemerintah Kabupaten Serang agar krisis energi ini segera berakhir. Namun, jawaban yang diterima masih menggantung pada ketersediaan dana di masa depan.
“Jawabannya, mudah-mudahan bisa, bila ada anggaran di tahun 2023,” ujar Hasim lesu. Untuk sementara, ribuan warga di pulau tersebut dipaksa terus bertahan di bawah bayang-bayang kegagalan teknologi yang seharusnya memerdekakan mereka dari kegelapan.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.