Dosen UB Latih Warga Desa Kucur Malang Olah Jeruk Subgrade Jadi Produk Bernilai Jual Tinggi
Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Permasalahan limbah buah dan minimnya nilai tambah hasil panen di Desa Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang—yang dikenal sebagai sentra penghasil jeruk Baby Java—kini mulai teratasi. Tim dosen dari Universitas Brawijaya (UB) hadir melalui program pengabdian masyarakat Doktor Mengabdi, Pengembangan Kemitraan (DM-PK) 2025 untuk memberikan solusi inovatif. Solusi tersebut berfokus pada pelatihan pengolahan jeruk subgrade menjadi produk bernilai jual tinggi, seperti permen jeli dan sabun cuci piring.
Program ini menyasar ibu rumah tangga dan petani, bertujuan meningkatkan keterampilan pengolahan hasil pertanian dan membuka peluang usaha baru berbasis potensi lokal. Jeruk subgrade—buah yang kerap terbuang karena warga kewalahan mengonsumsi jeruk segar yang melimpah—kini diubah menjadi sumber ekonomi baru.

Inovasi Produk Olahan Jeruk dan Limbah Kulit
Inovasi utama yang dikembangkan tim UB, yang dipimpin oleh Dr. Claudia Gadizza Perdani STP., M.Si dari Departemen Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian, adalah menciptakan dua produk unggulan: permen jeli Citrabite (berbahan daging jeruk) dan sabun pencuci piring Citrus Cleanz (berbahan kulit jeruk).
Peserta, khususnya ibu-ibu rumah tangga, dilatih secara intensif mulai dari proses awal, yaitu ekstraksi sari jeruk dan kulit, pemasakan bahan, hingga teknik pengemasan produk yang rapi agar siap dipasarkan.
“Sebagian besar ibu-ibu di sini bekerja sebagai pekerja rumah tangga di wilayah Tidar dan Dieng. Jika produk olahan ini dikemas rapi dan profesional, mereka bisa sekalian memasarkannya di tempat kerja, menjangkau pasar perkotaan secara langsung,” jelas Dr. Claudia.
Peluang Usaha Baru dengan Pupuk Organik
Selain olahan jeruk, tim UB juga memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik, sebuah produk yang juga sangat potensial dijual di kalangan warga perumahan yang gemar tanaman hias. Pelatihan ini tidak hanya ditujukan untuk ibu-ibu, tetapi juga secara spesifik menyasar para petani di Desa Kucur.
Pelatihan petani berfokus pada pembuatan pupuk organik berbahan dasar kotoran kambing. Proses yang diajarkan mencakup tahapan fermentasi, pengayakan, penimbangan, hingga pengemasan dalam ukuran 5 dan 10 kilogram menggunakan alat jahit karung untuk mempermudah distribusi dan meningkatkan profesionalisme produk.
Program DM-PK 2025 ini secara signifikan membantu mengurangi limbah buah jeruk, memperkuat praktik pertanian berkelanjutan melalui pemanfaatan kotoran ternak menjadi pupuk, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan petani dan ibu rumah tangga. Tim UB berharap, melalui keterampilan baru ini, masyarakat Desa Kucur dapat menjadi lebih mandiri secara ekonomi dan mampu mengembangkan produk unggulan desa dengan akses pemasaran yang lebih luas melalui jaringan kerja mereka di Kota Malang. Sinergi antara kampus dan masyarakat desa ini menjadi kunci keberhasilan dalam transformasi potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.