Ambarawa, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Kawasan bersejarah Benteng Fort Willem I atau yang populer dengan sebutan Benteng Pendem Ambarawa, kini bersiap menjadi pusat peradaban baru melalui peluncuran Sendratari “Babad Fort Willem I”. Pementasan perdana yang dijadwalkan pada Sabtu, 17 Januari 2026 ini, bukan sekadar pertunjukan seni biasa, melainkan perwujudan ekosistem budaya yang menyatukan Grha Mandala Cipta dan perangkat Gamelan Ki Gita Parama.
Integrasi ini menciptakan ruang di mana sejarah kolonial yang masif bertemu dengan denyut kreasi kontemporer. Grha Mandala Cipta hadir sebagai “rumah produksi” kreatif, sementara Gamelan Ki Gita Parama bertindak sebagai “roh” suara yang menghidupkan narasi sejarah benteng dari masa ke masa.
Grha Mandala Cipta: Jantung Kreativitas di Tengah Benteng
Grha Mandala Cipta yang diprakarsai oleh The Lawu Grup bukan hanya sebuah gedung pertunjukan. Secara filosofis, tempat ini merupakan lingkaran pusat energi kehidupan (Mandala) bagi para seniman untuk menciptakan (Cipta) karya. Bangunan ini menjadi jembatan antara memori kelam masa lalu benteng dengan masa depan seni pertunjukan Kabupaten Semarang.
Fungsi Grha Mandala Cipta dirancang sangat inklusif, meliputi:
- Pusat pementasan teater sejarah dan sendratari rutin.
- Ruang residensi dan latihan bagi sanggar-sanggar lokal.
- Wadah diskusi budaya dan edukasi sejarah bagi generasi muda.
Gamelan Ki Gita Parama: Suara Luhur Penjaga Tradisi
Melengkapi ekosistem ini, hadir perangkat Gamelan Ki Gita Parama. Nama yang berarti “suara luhur yang menuntun” ini merupakan persembahan dari Mas R.A. Nugroho Adi (Hanoman Art). Gamelan ini menjadi instrumen utama dalam mengiringi narasi sejarah, mengubah arsip kaku menjadi pengalaman estetik yang menyentuh batin penonton. Keberadaan gamelan ini memastikan bahwa setiap pementasan di Grha Mandala Cipta memiliki pijakan tradisi karawitan Jawa yang kuat namun tetap terbuka pada kolaborasi modern.

Sendratari Babad Fort Willem I: Produk Unggulan Ekosistem
Lahirnya Sendratari “Babad Fort Willem I” merupakan hasil langsung dari sinergi ekosistem ini. Disutradarai oleh JP. Awig Soedjatmika dengan koreografi Ino Sanjaya, karya ini melibatkan kolaborasi masif antara Sanggar Kemrincing Art, Nayanika, Legato Music, dan Javayo Production.
Pertunjukan ini akan memotret perjalanan panjang benteng sejak era Benteng Stelsel (1834), masa pendudukan Jepang, hingga transformasinya menjadi ruang budaya masa kini. Wisatawan yang ingin menyaksikan keagungan sejarah ini cukup membayar tiket masuk kawasan sebesar Rp15.000, sementara pementasan sendratarinya sendiri dapat dinikmati secara gratis sebagai bagian dari layanan edukasi budaya.
Dengan rutinnya pementasan ini, Ambarawa diproyeksikan memiliki daya tarik wisata budaya berkelanjutan layaknya Sendratari Ramayana di Prambanan, menjadikannya destinasi yang wajib dikunjungi bagi pecinta sejarah dan seni di Jawa Tengah.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.