Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KABAR DESA · 24 Agu 2023 23:27 WIB ·

Bukan Spesialis, Gus Halim Mau Pendamping Desa Jadi Generalis!


					Bukan Spesialis, Gus Halim Mau Pendamping Desa Jadi Generalis! Perbesar

Bandung, Jawa Barat [DESA MERDEKA] Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) periode 2019-2024, Abdul Halim Iskandar, memberikan instruksi tajam mengenai masa depan tenaga pendamping desa. Pria yang akrab disapa Gus Halim ini menegaskan bahwa Pendamping Lokal Desa (PLD) tidak boleh lagi bekerja secara tersekat (segmented). Sebaliknya, mereka harus menjadi tenaga generalis yang serbabisa agar pengabdian mereka tetap relevan dan tidak “punah” ditelan zaman.

Sudut pandang ini menantang pakem profesionalisme lama yang memuja spesialisasi. Menurut Gus Halim, jika seorang pendamping hanya ahli di satu bidang—misalnya infrastruktur—maka eksistensinya akan terancam saat seluruh jalan dan jembatan di desa tersebut selesai dibangun.

“Supaya peran mereka tidak berkurang atau dianggap tidak berguna lagi, pendamping harus bersifat generalis karena basis tugasnya adalah kewilayahan,” ujar Gus Halim saat menutup acara Refreshment Training Penguatan Partisipasi Pegiat Desa di Bandung.

Strategi Bertahan di Tengah “Ledakan” Desa Mandiri
Logika Gus Halim didasari pada data kemajuan desa yang melompat signifikan. Berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM), jumlah Desa Mandiri meroket tajam dari hanya 174 desa pada 2015 menjadi 11.456 desa pada 2023. Di saat fasilitas fisik desa semakin lengkap, tantangan pendamping justru bergeser ke ranah yang lebih kompleks: ekonomi dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Gus Halim berpendapat bahwa pemberdayaan masyarakat adalah proses yang tidak akan pernah selesai. Ia mencontohkan negara maju seperti Amerika Serikat yang ekonominya sempat goyah, atau Jepang yang menghadapi krisis regenerasi penduduk. Hal ini membuktikan bahwa status “negara maju” atau “desa mandiri” bukan jaminan stabilitas permanen.

Oleh karena itu, pendamping desa masa kini dituntut menguasai lintas disiplin ilmu, mulai dari manajemen ekonomi, pemanfaatan teknologi, hingga pelayanan sosial dasar. “Pemberdayaan itu tidak bisa setengah-setengah, harus total. Target utama dana desa adalah pertumbuhan ekonomi dan peningkatan SDM, dan dua hal ini adalah tantangan abadi,” jelasnya.

Totalitas Tanpa Sekat
Dengan beban menangani lebih dari satu desa, seorang PLD diharapkan menjadi “solusi berjalan” bagi warga. Saat urusan fisik tuntas, pendamping harus mampu beralih peran menjadi konsultan ekonomi kreatif atau penggerak literasi digital.

Instruksi ini menjadi alarm bagi para pegiat desa untuk terus memperluas wawasan dan keterampilan. Fokus pada satu segmen hanya akan membuat tenaga pendamping tereliminasi oleh kemajuan desa itu sendiri. Transformasi dari spesialis menjadi generalis adalah harga mati bagi keberlanjutan peran pendamping dalam mengawal kedaulatan warga desa di masa depan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 36 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Merti Dusun Kranggan 1 Jadi Ruang Warga Lestarikan Budaya Jawa

6 September 2026 - 23:13 WIB

Krisis Air Kertagena Laok: Antara Hak Publik dan Dana Aspirasi

28 Agustus 2026 - 14:15 WIB

Watugede Culture Festival 2026 Bukukan Transaksi Rp140 Juta

25 Agustus 2026 - 09:10 WIB

pembukaan watugede culture festival

Kursi Panas BPD Sosoh Buay Rayap Berakhir Damai

21 Agustus 2026 - 23:28 WIB

Suara Kaum Marginal di Balik Gelar Desa Antikorupsi Nasional Banyubiru

21 Agustus 2026 - 15:28 WIB

Puncak Gunung Es BSPS Malaka: Rakyat Miskin Dipaksa Nombok

21 Agustus 2026 - 09:03 WIB

Trending di KABAR DESA