Tulungagung, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Pemerintah Kabupaten Tulungagung mulai menggeser paradigma pertanian tradisional ke arah modernisasi radikal. Melalui penyerahan satu unit traktor roda empat kepada Gapoktan Tani Makmur di Kelurahan Tamanan, Rabu (11/2/2026), Wakil Bupati Ahmad Baharudin menegaskan bahwa mekanisasi adalah kunci utama untuk mempercepat target swasembada pangan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Meski Tulungagung saat ini sudah menyandang status surplus padi, pemerintah daerah enggan terlena. Modernisasi alat dan mesin pertanian (Alsintan) diposisikan sebagai “senjata” untuk memangkas biaya operasional petani sekaligus meningkatkan intensitas tanam secara nasional.
“Ini adalah solusi teknis. Dengan bantuan traktor roda empat ini, kita ingin memastikan sinergi pusat dan daerah mampu mengeksekusi visi besar swasembada pangan lebih cepat dari jadwal,” ujar Ahmad Baharudin.
Integritas Kelompok: Aset Negara Bukan Milik Pribadi
Sudut pandang menarik muncul saat Wabup memberikan catatan kritis terkait manajemen aset. Ia mewanti-wanti agar bantuan strategis ini tidak berubah menjadi “harta pribadi” pengurus kelompok. Pemerintah menetapkan tiga pilar utama dalam pengelolaan bantuan ini:
- Transparansi Pemanfaatan: Alat wajib digunakan untuk seluruh anggota kelompok, bukan segelintir orang.
- Kemandirian Perawatan: Gapoktan bertanggung jawab penuh atas biaya pemeliharaan agar mesin memiliki umur pakai panjang.
- Pengawasan Forkopimcam: TNI, Polri, dan pemerintah kecamatan dilibatkan untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan wewenang atas aset negara tersebut.
Petani Optimis: Efisiensi Biaya di Depan Mata
Ketua Gapoktan Tani Makmur, Sutrisno, mengakui bahwa traktor baru ini akan menjadi pengubah permainan (game changer) di lapangan. Kecepatan olah tanah menggunakan teknologi roda empat diklaim mampu memangkas waktu kerja dan menghemat pengeluaran buruh tani secara drastis.
Optimisme ini didukung oleh catatan sukses sektor agraria Tulungagung pada 2025. Menurut Priyo, Penyuluh Pertanian setempat, keberhasilan swasembada tahun lalu sangat dipengaruhi oleh kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang berpihak pada petani. Dengan adanya mekanisasi baru ini, tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun emas bagi stabilitas pangan di Bumi Marmer.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.