Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Pantai Purus di Kota Padang mendadak riuh dengan aksi nyata ratusan relawan pada Sabtu (6/6/2026). Di bawah komando Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, aksi gotong royong massal dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi momentum untuk menggaungkan “Gerakan Indonesia Asri”. Namun, kegiatan ini bukan sekadar seremoni kebersihan pantai; ini adalah seruan perubahan besar: bagaimana mengelola sampah dari rumah agar tidak lagi berakhir menumpuk di TPA.
Secara geografis, Sumatera Barat memiliki bentang alam yang memukau, dari garis pantai hingga nagari-nagari di perbukitan yang menjadi magnet pariwisata. Gubernur Mahyeldi menekankan bahwa menjaga lingkungan adalah investasi jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi. Ia membagikan pengalaman sukses saat menata kawasan Pantai Padang beberapa tahun lalu, di mana penataan lingkungan yang disiplin mampu memicu lonjakan pendapatan sektor pariwisata hingga 600 persen. “Kebersihan dan penataan lingkungan memberikan dampak nyata terhadap ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Bagi warga di tingkat nagari atau desa, pesan gubernur sangat krusial: mulailah memilah sampah dari sumbernya. Mahyeldi mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat pengelolaan sampah mandiri di kantor hingga sekolah. Sampah organik, misalnya, bukan lagi musuh, melainkan potensi ekonomi jika diolah menjadi kompos atau pakan maggot. Begitu pula sampah plastik yang memiliki nilai daur ulang. “Sampah sesungguhnya bisa menjadi berkah jika dikelola dengan baik,” tambahnya.
Strategi “hilirisasi” sampah di tingkat rumah tangga ini diharapkan dapat menjadi model bagi setiap nagari di Sumbar. Dengan melibatkan seluruh elemen—mulai dari masyarakat, komunitas, hingga sektor swasta—Gerakan Indonesia Asri ingin memastikan bahwa “Aman, Sehat, Resik, dan Indah” bukan sekadar jargon, melainkan gaya hidup.
Ke depan, Dinas Lingkungan Hidup Sumbar ditargetkan menyusun panduan praktis yang memudahkan setiap warga untuk ikut ambil bagian. Budaya peduli lingkungan yang tertanam dari level RT/RW hingga nagari akan menjadi benteng bagi alam Sumbar. Jika setiap rumah tangga mampu mandiri mengelola sampahnya, bukan hanya keasrian yang terjaga, tetapi potensi ekonomi desa wisata pun akan semakin terbuka lebar. Kesadaran untuk tidak menjadi penyebab sampah, melainkan menjadi pelopor pengolah sampah, adalah karakter baru yang kini tengah dibangun di tanah Minangkabau.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.