Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

DESA · 7 Feb 2026 09:32 WIB ·

Belasan Tahun Dana Desa, Warga Lamoeri Masih “Amanah” Swadaya


					Warga Desa Lamoeri, Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatan terpaksa membangun sendiri jembatan lantaran Kades diduga tidak peduli. Foto Istimewa Perbesar

Warga Desa Lamoeri, Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatan terpaksa membangun sendiri jembatan lantaran Kades diduga tidak peduli. Foto Istimewa

Konawe, Sulawesi Tenggara [DESA MERDEKA] Ironi besar terjadi di Desa Lamoeri, Kecamatan Angata, Konawe Selatan. Di tengah guyuran Dana Desa (DD) yang rutin mengalir selama belasan tahun, warga justru harus “merogoh kocek” pribadi melalui swadaya untuk membangun infrastruktur dasar. Ketimpangan ini memicu gejolak, hingga masyarakat mendesak Inspektorat dan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara turun tangan mengaudit dugaan penyimpangan anggaran.

Jeritan warga mencuat karena usulan prioritas dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbang) kerap mental. Salah satu yang paling krusial adalah ketiadaan jembatan menuju lahan perkebunan dan jalur aman bagi anak sekolah. Akibatnya, setiap tahun warga terpaksa menggalang dana sendiri demi membuat akses seadanya agar aktivitas ekonomi dan pendidikan tidak lumpuh.

“Sangat berbahaya melihat anak sekolah menyeberang tanpa jembatan. Kami sudah usulkan berkali-kali, tapi Kades tidak pernah mendengar. Akhirnya kami swadaya lagi,” ungkap salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Proyek Tanpa Manfaat dan Dugaan “Proyek Siluman”
Kekecewaan warga semakin memuncak saat melihat arah pembangunan yang dianggap tidak tepat sasaran. Di saat infrastruktur mendesak diabaikan, Pemerintah Desa Lamoeri justru dituding membangun fasilitas yang tidak berfungsi.

Warga menunjuk sebuah bangunan permanen di dekat saluran pengairan yang menelan biaya besar namun hingga kini telantar tanpa fungsi jelas. Tak hanya itu, aroma nepotisme juga tercium dalam pembagian bantuan tandon air yang diduga hanya mengalir ke lingkaran aparat desa dan keluarga dekat.

“Kades kami aneh, yang prioritas tidak dibangun. Justru ada bangunan mahal di pengairan yang tidak ada asas manfaatnya. Kami juga curiga ada ‘proyek siluman’ yang tercatat di laporan tapi fisiknya tidak ada,” tambah warga tersebut dengan nada geram.

Desakan Audit dan Jalur Hukum
Masyarakat Lamoeri kini tidak lagi sekadar mengeluh. Mereka menuntut transparansi total dan mendesak Inspektorat Daerah segera membentuk Panitia Khusus (Pansus) untuk memeriksa laporan keuangan desa. Jika tidak ada tindakan tegas, warga menyatakan telah bersiap membawa dokumen dugaan penyelewengan ini ke ranah hukum.

“Kami berencana melaporkan kondisi Desa Lamoeri ke Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara agar diperiksa secara terang benderang,” tegas perwakilan warga.

Hingga berita ini naik cetak, Kepala Desa Lamoeri belum memberikan tanggapan resmi. Upaya konfirmasi melalui aparat desa setempat pun tidak membuahkan hasil, meninggalkan tanda tanya besar bagi publik terkait pengelolaan uang negara di desa tersebut.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Jalan Beton Sigayam: Harapan Baru Ekonomi Petani Batang

23 April 2026 - 08:35 WIB

Dana Desa Situbondo Bermasalah: 16 Desa Terancam Dipolisikan

18 April 2026 - 01:21 WIB

Demokrasi Bantarjaya: Daftar Pemilih BPD Resmi Ditetapkan hari ini

16 April 2026 - 10:58 WIB

Soreang Digital: Strategi Mandiri Lewat Ikan dan AI

11 April 2026 - 03:17 WIB

Sengketa Lapak Popoh: Saat Realitas Sosial Beradu Aturan

11 April 2026 - 01:56 WIB

Prestasi vs Preseden: Nasib Desa Sukojati di Ujung Prosedur

11 April 2026 - 00:06 WIB

Trending di DESA