Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Di tengah hiruk pikuk isu ekonomi perkotaan, potensi desa terus menunjukkan geliat bisnis yang tak kalah menjanjikan. Salah satunya adalah usaha produksi arang kayu kelengkeng yang ditekuni Mas Suroto di Dusun Bowak, Desa Nelik, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Usaha turun-temurun ini membuktikan bahwa kreativitas dan keuletan di pedesaan mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi dengan daya saing kuat.
Mas Suroto melanjutkan profesi yang dulunya ditekuni sang ayah dan kakeknya, Mbah Yasman. Bisnis ini telah berjalan selama kurang lebih 15 tahun sejak sekitar tahun 2010. Dimulai dengan satu tungku sederhana, kini Mas Suroto mengoperasikan enam tungku pembakaran arang, didukung oleh tujuh tenaga kerja. Kapasitas produksi arang jadinya mencapai 2 hingga 2,5 ton per tungku. Dengan enam tungku, rata-rata produksi arang kayu kelengkeng Mas Suroto mencapai 12 ton per bulan, bahkan bisa lebih karena satu tungku dapat digunakan dua kali dalam sebulan.
Kualitas Arang Unggulan dari Kayu Kelengkeng
Pemilihan kayu kelengkeng sebagai bahan baku utama bukan tanpa alasan. Menurut Mas Suroto, arang yang dihasilkan dari kayu kelengkeng memiliki daya tahan bara api yang lebih lama dan panas yang bisa dua kali lipat lebih tinggi dibanding arang dari jenis kayu biasa. Hal ini menjadikan produk arangnya diminati banyak pelanggan. Pasokan kayu kelengkeng diperoleh dari sejumlah pedagang kayu yang telah menjadi mitra kerja.
“Pembelian kayu kebanyakan cash,” ungkap Mas Suroto, menekankan profesionalisme dalam pengelolaan usahanya meski berada di pelosok desa, 11 Juli 2025. Ia optimis bahwa kemajuan Indonesia tidak akan terhambat jika masyarakat desa terus berkreasi dan menghasilkan produk.
Sistem Penjualan dan Harga Bersaing
Produksi arang Mas Suroto dipasarkan melalui sistem penjualan langsung di tempat. Pelanggan datang mengambil sendiri arang yang dibutuhkan. Area pemasaran sudah meluas hingga ke Wonosobo dan Mangun. Harga arang dipatok Rp3.800 per kilogram untuk pengambilan minimal 1,5 ton.
Selain arang utuh, Mas Suroto juga mengolah arang pecah-pecahan. Arang ini dijual dengan harga lebih rendah, sekitar Rp1.000 hingga Rp2.500 per kilogram, yang kerap digunakan sebagai campuran briket atau bahkan untuk memasak nasi goreng oleh pelanggan dari Kudus. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh hasil produksi dioptimalkan dan diminati pasar.
Komitmen Kesejahteraan Pekerja dan Harapan ke Depan
Usaha arang ini beroperasi setiap hari kecuali hari Minggu. Mas Suroto sangat memperhatikan kesejahteraan karyawannya, membayar upah harian sebesar Rp80.000 hingga Rp85.000, yang diberikan secara cepat tanpa menunggu lama. “Kalau kelamaan kasihan,” ujarnya.
Ke depan, Mas Suroto berharap usahanya dapat terus berkembang, membuka lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat yang membutuhkan. Dengan reputasi dan kualitas arang “Suroto Arang” yang telah dikenal, potensi ekspansi usaha ini sangat besar. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa ekonomi pedesaan memiliki daya tahan dan potensi besar untuk berkontribusi pada kemajuan bangsa.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.