Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

EKONOMI BISNIS Β· 12 Jul 2025 08:36 WIB Β·

Arang Kelengkeng Mas Suroto: Bisnis Desa Tembus Pasar Nasional


					Arang Kelengkeng Mas Suroto: Bisnis Desa Tembus Pasar Nasional Perbesar

Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Di tengah hiruk pikuk isu ekonomi perkotaan, potensi desa terus menunjukkan geliat bisnis yang tak kalah menjanjikan. Salah satunya adalah usaha produksi arang kayu kelengkeng yang ditekuni Mas Suroto di Dusun Bowak, Desa Nelik, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Usaha turun-temurun ini membuktikan bahwa kreativitas dan keuletan di pedesaan mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi dengan daya saing kuat.

Mas Suroto melanjutkan profesi yang dulunya ditekuni sang ayah dan kakeknya, Mbah Yasman. Bisnis ini telah berjalan selama kurang lebih 15 tahun sejak sekitar tahun 2010. Dimulai dengan satu tungku sederhana, kini Mas Suroto mengoperasikan enam tungku pembakaran arang, didukung oleh tujuh tenaga kerja. Kapasitas produksi arang jadinya mencapai 2 hingga 2,5 ton per tungku. Dengan enam tungku, rata-rata produksi arang kayu kelengkeng Mas Suroto mencapai 12 ton per bulan, bahkan bisa lebih karena satu tungku dapat digunakan dua kali dalam sebulan.

Kualitas Arang Unggulan dari Kayu Kelengkeng

Pemilihan kayu kelengkeng sebagai bahan baku utama bukan tanpa alasan. Menurut Mas Suroto, arang yang dihasilkan dari kayu kelengkeng memiliki daya tahan bara api yang lebih lama dan panas yang bisa dua kali lipat lebih tinggi dibanding arang dari jenis kayu biasa. Hal ini menjadikan produk arangnya diminati banyak pelanggan. Pasokan kayu kelengkeng diperoleh dari sejumlah pedagang kayu yang telah menjadi mitra kerja.

“Pembelian kayu kebanyakan cash,” ungkap Mas Suroto, menekankan profesionalisme dalam pengelolaan usahanya meski berada di pelosok desa, 11 Juli 2025. Ia optimis bahwa kemajuan Indonesia tidak akan terhambat jika masyarakat desa terus berkreasi dan menghasilkan produk.

Sistem Penjualan dan Harga Bersaing

Produksi arang Mas Suroto dipasarkan melalui sistem penjualan langsung di tempat. Pelanggan datang mengambil sendiri arang yang dibutuhkan. Area pemasaran sudah meluas hingga ke Wonosobo dan Mangun. Harga arang dipatok Rp3.800 per kilogram untuk pengambilan minimal 1,5 ton.

Selain arang utuh, Mas Suroto juga mengolah arang pecah-pecahan. Arang ini dijual dengan harga lebih rendah, sekitar Rp1.000 hingga Rp2.500 per kilogram, yang kerap digunakan sebagai campuran briket atau bahkan untuk memasak nasi goreng oleh pelanggan dari Kudus. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh hasil produksi dioptimalkan dan diminati pasar.

Komitmen Kesejahteraan Pekerja dan Harapan ke Depan

Usaha arang ini beroperasi setiap hari kecuali hari Minggu. Mas Suroto sangat memperhatikan kesejahteraan karyawannya, membayar upah harian sebesar Rp80.000 hingga Rp85.000, yang diberikan secara cepat tanpa menunggu lama. “Kalau kelamaan kasihan,” ujarnya.

Ke depan, Mas Suroto berharap usahanya dapat terus berkembang, membuka lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat yang membutuhkan. Dengan reputasi dan kualitas arang “Suroto Arang” yang telah dikenal, potensi ekspansi usaha ini sangat besar. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa ekonomi pedesaan memiliki daya tahan dan potensi besar untuk berkontribusi pada kemajuan bangsa.

 

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 142 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

KUB PMPL Desak KPPU Usut Jerat Utang PT PCP di Kaltara

16 Oktober 2026 - 17:52 WIB

Data BPS Diabaikan, Pelatihan UMKM Sumbar Terjebak Rutinitas Seremonial

13 Oktober 2026 - 06:15 WIB

Mengubah Layanan UMKM Sumbar Menjadi Produk Laris Manis

9 Oktober 2026 - 21:36 WIB

Stimulan Rp115 Miliar Sumbar: Proyek Mubazir Tanpa Pembeli Siaga?

3 Oktober 2026 - 11:01 WIB

Membedah “Karpet Merah” Ekosistem Kendaraan Listrik di Ranah Minang

2 Oktober 2026 - 15:22 WIB

Paramadina Dorong Pemuda Cerdas Finansial dan Amankan Data

3 September 2026 - 06:03 WIB

Trending di EKONOMI BISNIS