Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Di balik riuhnya panggung ekspresi dan pembagian hadiah pada Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 di Istana Gubernuran, Minggu (26/7/2026), sebuah kenyataan kelam sedang mengintai masa depan generasi perdesaan dan perkotaan di Sumatera Barat. Target besar menuju Indonesia Emas 2045 kini dibayangi oleh krisis kesehatan mental dan ancaman kekerasan yang nyata di tingkat basis.
Bukan sekadar asumsi, kondisi darurat ini terpampang dari rilis data awal Program PANTAU SUMBAR (Penguatan Aksi Nyata Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak Menuju Sumbar Tangguh 2045). Dari 12 ribu anak yang disurvei, sebanyak 21 persen atau seperlima di antaranya mengaku secara terbuka pernah menjadi korban kekerasan.
Lebih mengerikan lagi, survei tersebut mendeteksi adanya ribuan anak di Ranah Minang yang terjebak dalam kesepian ekstrem dan kehilangan harapan hidup. Bahkan, tercatat lebih dari seribu anak terdeteksi memiliki kecenderungan untuk mengakhiri hidup mereka sendiri.
“Kondisi ini menjadi alarm bagi kita semua. Perlindungan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, masyarakat, dunia usaha, hingga media,” tegas Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, saat melihat angka-angka krusial tersebut di tengah perayaan festival.
Angka depresi yang tinggi ini menjadi tamparan keras bahwa pemenuhan hak anak di daerah tidak boleh lagi berjalan di atas karpet merah seremonial semata. Jeritan sunyi anak-anak dari tingkat nagari dan desa ini kemudian dirangkum oleh Forum Anak Sumbar ke dalam 15 poin Suara Anak Sumbar.
Mereka mendesak hak-hak fundamental yang selama ini terabaikan, seperti ruang bermain yang benar-benar aman dari asap rokok, perlindungan dari perundungan (bullying), inklusivitas pendidikan, hingga benteng pertahanan di ruang digital.
Pemerintah daerah bersama Kementerian PPPA kini mencoba meredam bom waktu ini lewat reformasi program di tingkat akar rumput. Intervensi yang disiapkan di antaranya lewat penguatan Sekolah Rakyat, perluasan ruang publik ramah anak hingga ke perdesaan, program ‘Forum Anak Masuk Surau’ untuk penguatan mental spiritual, serta perbaikan pola pengasuhan dalam keluarga.
Sebab, sehebat apa pun fasilitas fisik yang dibangun di desa maupun kota, target melahirkan pemimpin masa depan akan runtuh jika kesehatan mental anak-anaknya hari ini dibiarkan mati secara perlahan. (DM/H)


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.