Solok, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Pembebasan lahan kerap menjadi batu sandungan utama yang membuat proyek infrastruktur raksasa mangkrak bertahun-tahun. Namun, cerita berbeda datang dari megaproyek Fly Over Sitinjau Lauik di Sumatera Barat.
Melalui pendekatan komunikasi yang memanusiakan warga, seluruh kendala lahan di kawasan kritis tersebut kini resmi tuntas, membuka jalan bagi dimulainya pengerjaan fisik secara masif.
Rampungnya urusan tanah ini menjadi bahan bakar utama bagi pihak pelaksana untuk langsung tancap gas di lapangan. Kolaborasi erat antara konsorsium HPSL, Hutama Karya, dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) kini sudah membuahkan hasil nyata berupa pergerakan alat berat dan konstruksi awal di area proyek.
Menghargai Warga, Mempercepat Pembangunan
Kunci sukses dari bebasnya lahan proyek ini terletak pada pergeseran pola komunikasi. Masyarakat lokal dan pemilik lahan tidak lagi ditempatkan sebagai objek pembangunan, melainkan dilibatkan sejak awal sebagai mitra dialog. Ketika warga merasa dihargai dan aspirasinya didengar, proses ganti rugi dan pelepasan hak atas tanah berjalan tanpa gejolak.
Keberhasilan negosiasi yang humanis ini diharapkan menjadi cetak biru baru bagi proyek strategis lain di Sumatera Barat. Model ini membuktikan bahwa percepatan pembangunan infrastruktur modern sama sekali tidak perlu mengorbankan atau meminggirkan hak-hak masyarakat lokal.
Target Rampung Mei 2028
Dengan dinamika lapangan yang kini bersih dari sengketa tanah, pihak berwenang optimistis target penyelesaian bisa dicapai tepat waktu. Jadwal kerja sama investasi telah disesuaikan, dan bendera target kini dipasang pada Mei 2028 untuk penyelesaian total konstruksi.
“Dengan tuntasnya pembebasan lahan ini, kami optimis pembangunan akan berjalan lebih optimal. Target kita ini tuntas Mei 2028,” ujar PPK Sitinjau Lauik, Risma, saat memberikan penjelasan teknis di lapangan.
Jika berjalan sesuai rencana, jalur layang megah ini tidak hanya akan menghapus memori kelam kemacetan di Tikungan Panorama 1, tetapi juga menjadi monumen hidup atas keberhasilan kolaborasi antara pemerintah, korporasi, dan kerelaan hati masyarakat Sumatera Barat.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.