Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Sinkronisasi antara strategi digitalisasi dengan karakteristik produk lokal menjadi tantangan utama dalam implementasi program Nagari Creative Hub (NCH) di Sumatera Barat. Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Sumbar, program yang menguji coba tiga nagari model sejak akhir 2025 ini tengah dievaluasi secara ketat oleh pemerintah provinsi karena dinilai belum memberikan hasil yang maksimal.
Salah satu evaluasi teknis mengarah pada efisiensi penempatan komoditas pada platform e-commerce. Di Nagari Model Sikalang dan Pangian, komoditas bernilai tinggi dan bermutu kerajinan tangan seperti Kain Songket, dimasukkan ke dalam platform marketplace massal seperti Shopee dan TikTok bersamaan dengan produk pangan olahan. Pola pemasaran Customer-to-Customer (C2C) retail tersebut dinilai kurang tepat untuk produk premium karena harus bertarung algoritma dengan produk tekstil massal buatan pabrik, sehingga serapan omset digitalnya tidak bergerak signifikan.
Kondisi ini menjadi dasar bagi Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, saat melantik Mahdianur sebagai Kepala DPMD Sumbar yang baru pada Rabu (2/9). Gubernur memberikan instruksi khusus kepada Mahdianur untuk segera turun menyelesaikan persoalan di lapangan dan memperkuat akselerasi NCH secara konkret sebelum dilakukan peluncuran perluasan ke 10 nagari baru di sisa tahun anggaran 2026.
Tantangan administratif bagi DPMD kini adalah menyusun rencana aksi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk memilah jalur logistik dan pasar yang sesuai dengan tipologi produk masing-masing nagari. Pihak pemerintah daerah didorong untuk memisahkan jalur niaga produk kerajinan adat ke platform kurasi eksklusif atau jaringan Business-to-Business (B2B), sementara platform retail tetap digunakan untuk komoditas pangan cepat saji.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.