Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 2 Sep 2026 22:47 WIB ·

Lautan Cahaya Lilin Sambut Bunda Maria di Malaka


					Momen Arak-arakan Patung bunda Maria Nai Veto Malaka oleh Umat Stasi Weata Paroki Santa Maria Fatima Betun, (foto istimewa) Perbesar

Momen Arak-arakan Patung bunda Maria Nai Veto Malaka oleh Umat Stasi Weata Paroki Santa Maria Fatima Betun, (foto istimewa)

Malaka, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] Jalanan trans-Malaka seketika berubah menjadi lautan cahaya teologis pada Rabu malam (2/9/2026). Ribuan umat Katolik dari Stasi Weata, Paroki Santa Maria Fatima Betun, berdiri berjejer menembus kegelapan malam. Di tangan mereka, lilin-lilin kecil menyala, bergoyang ditiup angin, mengiringi kedatangan perarakan besar Patung Bunda Maria Nai Veto Malaka.

Tradisi akbar dua tahunan Keuskupan Atambua ini selalu berhasil menggetarkan hati umat. Sejak pukul 18.00 WITA, sayup-sayup lantunan doa Rosario dan lagu pujian mulai menggema, memecah kesunyian Desa Angkaes. Di barisan depan, sirene Patwal Polisi dan dentuman drum band SMA Negeri Wederok membuka jalan. Namun, magnet utamanya ada di belakang mereka: sebuah tandu kayu yang memikul Patung Bunda Surgawi, diangkat bergantian oleh pundak-pundak umat yang penuh peluh dan ketulusan.

“Ini bukan sekadar tradisi, ini kerinduan. Dua tahun kami menunggu Bunda melintasi depan rumah kami,” ungkap salah satu umat dengan mata berkaca-kaca, sembari merapikan patung Maria kecil di altar darurat depan rumahnya.

Perjalanan iman sejauh dua setengah jam itu memuncak tepat pukul 20.30 WITA saat rombongan tiba di Stasi Weata. Kelelahan fisik umat luruh seketika begitu lonceng gereja bertalu, menyambut dimulainya Perayaan Ekaristi Kudus yang dikonselebrasikan oleh empat orang imam.

Dalam keheningan khotbah, Romo Bala, Pr. mengingatkan umat untuk tidak terjebak pada euforia perayaan luar saja. Ia menegaskan bahwa kunjungan ini adalah ketukan bagi hati setiap insan untuk merawat kemanusiaan.

“Kehadiran Bunda Maria di tengah kita adalah berkat nyata. Kunjungan ini harus berbuah pada tindakan konkret kita sehari-hari,” pesan Romo Bala, Pr.

Romo Bala juga mengajak umat merefleksikan nilai-nilai universal Gereja—seperti yang belakangan ini digaungkan Paus Leo XIV dalam Ensiklik Magnifica Humanitas—bahwa di era modern yang penuh tantangan teknologi dan individualisme, menjaga martabat manusia melalui kasih dan perbuatan baik adalah panggilan iman yang paling utama.

“Buat baik itu di mana saja, kapan saja, dan untuk siapa saja. Karena kebaikan yang kita tabur akan berbuah kebaikan bagi hidup kita sendiri,” tegasnya.

Malam kian larut di Malaka, namun lilin-lilin di sepanjang jalan Weata belum padam. Beriringan dengan redupnya api lilin, ada semangat persaudaraan dan iman baru yang justru baru saja menyala di hati umat Stasi Weata.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Bukan Sekadar Sertifikat: Denyut Budaya Sumbar Ada di Tangan Masyarakat

29 Agustus 2026 - 16:46 WIB

Jangan Tangkap Ikan Kecil, Bongkar Bandar Togel Papua!

29 Agustus 2026 - 10:31 WIB

Saat Legenda Prambanan Pindah ke Jalanan Subah Batang

22 Agustus 2026 - 20:36 WIB

Gotong Royong Warga Malaka Kirim Bantuan Gempa Flores

17 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Tim Evaluator UNESCO Tiba di Sumbar, Geopark Ranah Minang Silokek Jalani Validasi

17 Agustus 2026 - 09:26 WIB

Simfoni Api Pasimarannu: Sakralnya Malam Taptu di Tapal Batas Selayar

16 Agustus 2026 - 21:35 WIB

Trending di SOSBUD