Kota Betun, Nusa tenggara Timur [DESA MERDEKA] – Krisis energi mendadak melumpuhkan aktivitas domestik masyarakat di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. Selama sepekan terakhir, kelangkaan minyak tanah membuat para ibu rumah tangga di wilayah tersebut menjerit karena kesulitan memasak, bahkan memicu dampak sosial pada anak-anak yang terpaksa pergi ke sekolah dengan perut kosong.
Kelangkaan ini terpantau merata di berbagai agen dan kios penjualan di sekitar Kota Betun. Drum-drum penampung milik pedagang terlihat kosong tanpa pasokan, membuat warga yang mengandalkan kompor konvensional kehilangan akses bahan bakar utama mereka.
Cuaca Ekstrem Mengunci Opsi Darurat Warga
Kondisi wilayah Malaka yang diguyur hujan non-stop selama seminggu terakhir memperparah keadaan. Bagi masyarakat setempat, kayu bakar biasanya menjadi pilihan cadangan saat bahan bakar minyak sulit didapat. Namun, cuaca buruk membuat seluruh persediaan kayu di luar rumah basah dan tidak dapat digunakan untuk menyalakan api.
“Pagi-pagi anak mau sekolah tidak makan karena kompor tidak ada minyak tanah. Sudah satu minggu Malaka hujan jadi susah cari kayu bakar. Kami minta pemerintah turun tangan,” ujar salah seorang ibu rumah tangga saat mengantre di agen Betun, Minggu (17/5/2026).
Menanti Penjelasan Resmi Pemerintah Daerah
Ketergantungan yang tinggi terhadap minyak tanah membuat hilangnya komoditas ini di pasar lokal langsung memicu keresahan massal. Ketiadaan mitigasi energi di tingkat hilir dinilai memperlambat ritme produktivitas harian keluarga di pelosok daerah.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah daerah maupun pihak terkait mengenai penyebab mandeknya distribusi pasokan minyak tanah ke Kabupaten Malaka. Warga kini hanya bisa berharap ada operasi pasar darurat untuk memulihkan stabilitas dapur mereka.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.