Bandung, Jawa Barat [DESA MERDEKA] – Warga di wilayah terpencil kini tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke kota hanya untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis. Melalui kolaborasi strategis antara Perkumpulan Forum BUMDes Indonesia (FBI) dan Jasamedika Group, layanan kesehatan canggih berbasis digital resmi dihadirkan di tingkat pedesaan mulai Senin (16/2/2026).
Langkah besar ini ditandai dengan penandatanganan MoU di Kota Bandung yang mengintegrasikan teknologi telehealth, gerai klinik, dan apotek desa di bawah pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Inisiatif ini hadir sebagai jawaban atas hambatan geografis yang selama ini menghalangi warga desa mendapatkan akses kesehatan yang setara dengan masyarakat perkotaan.
Menghadirkan Rumah Sakit ke Ruang Tamu Desa
Transformasi ini membawa standar rumah sakit besar langsung ke jantung desa. Direktur Jasamedika Transmedic, Peni Pahlawanda, menjelaskan bahwa melalui aplikasi telemedicine Level-7, pasien di pelosok dapat terhubung secara real-time dengan dokter spesialis dari rumah sakit rujukan.
“Teknologi ini memangkas jarak. Kami ingin memastikan standar layanan medis di desa memiliki kualitas yang mendekati perkotaan,” ungkap Peni. Dukungan infrastruktur pun tidak main-main, melibatkan jaringan 135 rumah sakit mitra serta integrasi penuh dengan platform SatuSehat milik Kemenkes dan BPJS Kesehatan sesuai amanat UU Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023.
BUMDesa: Ujung Tombak Ekonomi dan Kesehatan
Bagi Forum BUMDes Indonesia, digitalisasi kesehatan adalah alat untuk memperkuat kedaulatan warga desa. Ketua Umum FBI, Yani Setiyadi, menekankan bahwa program ini akan menciptakan dampak ekonomi ganda (multiplier effect). Selain meningkatkan derajat kesehatan, pengelolaan gerai obat dan klinik oleh BUMDesa akan membuka lapangan kerja baru bagi pemuda setempat.
“Membangun desa yang sehat adalah fondasi kemajuan. Dengan teknologi, kita memperluas akses sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi desa,” jelas Yani.
Jawa Barat Sebagai Pintu Gerbang
Provinsi Jawa Barat terpilih sebagai titik awal (pilot project) sebelum teknologi ini diekspansi secara masif ke Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga mencakup 37 provinsi di seluruh Indonesia. Keberhasilan di Jawa Barat akan menjadi cetak biru nasional bagi pembangunan ekosistem kesehatan berbasis gotong royong digital.
Ke depannya, kehadiran klinik digital di desa diharapkan mampu menekan biaya transportasi warga secara signifikan. Inovasi ini membuktikan bahwa dengan sinergi yang tepat antara regulasi, teknologi, dan kelembagaan desa, kualitas hidup masyarakat pelosok dapat melompat lebih jauh.

Jurnalis
NIM : JT 2207-0007


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.