Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

PEMDA · 13 Feb 2026 12:30 WIB ·

Wamendagri Bima Arya: Dana Desa Bukan Satu-Satunya Sumber


					
Wamendagri Bima Arya Sugiantoro memberikan pengarahan dalam kegiatan sosialisasi terkait dana desa di Pendapa Wahyawibawagraha Jember, Kamis (12/2/2026) petang. (Image courtesy: ANTARA) Perbesar

Wamendagri Bima Arya Sugiantoro memberikan pengarahan dalam kegiatan sosialisasi terkait dana desa di Pendapa Wahyawibawagraha Jember, Kamis (12/2/2026) petang. (Image courtesy: ANTARA)

Surabaya, Jawa Timur [DESA MERDEKA] Era ketergantungan desa terhadap kucuran dana pusat mulai menemui titik balik. Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto, menegaskan bahwa perangkat desa harus mulai cerdik melihat peluang insentif lain dan berhenti hanya terpaku pada Alokasi Dana Desa (ADD). Hal ini disampaikan dalam sosialisasi pengawasan dana desa di Pendapa Wahyawibawagraha Jember, Kamis (12/2/2026).

Bima Arya menekankan bahwa meski terdapat penyesuaian anggaran, pemerintah pusat justru memperbanyak program sektoral yang langsung menyentuh desa. Fokus utama saat ini bukan lagi sekadar besaran angka, melainkan tata kelola yang transparan agar uang rakyat tidak “mampir” ke kantong pejabat.

“Dana desa hanyalah salah satu sumber. Saat ini banyak program seperti Kampung Nelayan, Koperasi Desa, hingga Koperasi Merah Putih yang dananya mengalir deras ke desa. Kuncinya adalah sinkronisasi dan transparansi,” tegas Bima Arya.

Strategi “Makan Bergizi Gratis” Sebagai Motor Ekonomi
Menanggapi isu pengurangan dana desa, Bupati Jember Muhammad Fawait (Gus Fawait) justru menawarkan perspektif optimis. Jember membidik program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai mesin baru penggerak ekonomi desa.

Jika 300 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jember berjalan maksimal, diprediksi akan ada perputaran uang mencapai Rp4 triliun yang masuk ke wilayah tersebut. Angka ini jauh melampaui nilai dana desa konvensional, asalkan perangkat desa mampu memaksimalkan potensi produksi lokal untuk menyuplai kebutuhan program tersebut.

Peringatan Keras Bagi 48 Desa di Jember
Di tengah ambisi kemandirian tersebut, terselip catatan merah bagi Kabupaten Jember. Terungkap bahwa sebanyak 48 desa belum bisa mencairkan dana desa tahap II tahun anggaran 2025 dengan total nilai mencapai Rp13,078 miliar.

Hambatan pencairan ini menjadi sorotan tajam Kemendagri. Bima Arya mengingatkan bahwa penguatan tata kelola dan pengawasan adalah harga mati. Korupsi harus diberantas hingga ke tingkat desa agar dampak pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat, bukan sekadar menjadi laporan di atas kertas.

“Transparansi dan efisiensi adalah harga mati. Pemberantasan korupsi harus menjadi capaian yang dirasakan nyata oleh masyarakat desa,” pungkasnya di hadapan ratusan kepala desa se-Kabupaten Jember.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Wajah Baru Birokrasi Sumbar: Harapan Baru Layanan Desa

23 April 2026 - 07:04 WIB

Benteng Nagari: Aturan Adat Penjaga Masa Depan Generasi

23 April 2026 - 06:57 WIB

Sinergi TMMD 128: Membangun Nagari dengan Hati dan Semangat Gotong Royong

23 April 2026 - 05:46 WIB

ASN Berkualitas: Kunci Keajaiban Pembangunan dari Pinggiran

22 April 2026 - 21:56 WIB

Bukan Sekadar Administrasi: Pengadaan Barang Harus Sejahterakan Rakyat

22 April 2026 - 21:42 WIB

Kesempatan Kedua: Jombang Ubah Aset Daerah Menjadi Berkah Rakyat

22 April 2026 - 13:02 WIB

Trending di PEMDA