Jakarta [DESA MERDEKA] – Sebuah kalung hitam sederhana yang dibawa Suryokoco mencuri perhatian saat ia melangkah masuk ke Bina Graha, Kantor Staf Presiden (KSP), 11 Februari lalu. Bukan perhiasan mewah, anyaman tali buatan tangan itu merupakan “Gelang Solidaritas 805”, sebuah simbol pengingat atas nasib ratusan Tenaga Pendamping Profesional (TPP) yang hingga kini belum mendapatkan kepastian Surat Keputusan (SK) di tahun 2026.
Ketua Umum Relawan Pendamping Desa Nusantara (RPDN) ini sengaja mengenakan gelang tersebut dalam setiap pertemuan strategis, termasuk saat melakukan audiensi dadakan dengan Ketua Komisi V DPR RI di Senayan. Bagi Suryokoco, gelang ini adalah personifikasi dari 805 kawan seperjuangannya.
“Saya bikin sendiri. Ini identitas agar saya selalu ingat, ada 805 kawan yang harus tetap dekat di jantung perjuangan kita,” tegas Suryokoco.
Bukan Komoditas, Melainkan Virus Ingatan
Di tengah era digital yang serba instan, Suryokoco memilih cara “analog” untuk menyebarkan pesan. Ia menolak memproduksi kalung leher ini secara massal apalagi menjualnya. Menurutnya, simbol ini tidak boleh menjadi komoditas ekonomi karena filosofinya adalah tentang kesetiaan dan pengorbanan rakyat kecil.
Meski sederhana, “virus” ingatan ini terbukti ampuh. Mulai dari ajudan staf presiden hingga sekretaris komisi di DPR mulai bertanya-tanya tentang makna di balik aksesori hitam tersebut. Di ruang-ruang kekuasaan yang formal, kalung ini menjadi pembuka percakapan yang efektif untuk menyuarakan advokasi pendamping desa.
Filosofi di Balik Simbol “805”
Suryokoco menjelaskan bahwa inspirasi kalung ini datang dari identitas prajurit (doctag), namun dimaknai ulang sebagai bentuk loyalitas kepada mereka yang terpinggirkan. Di media sosial, foto Suryokoco bersalaman dengan pejabat negara sambil memperlihatkan kalung tersebut kini viral di grup-grup komunikasi TPP seluruh Indonesia.
Banyak pendamping desa yang mulai bertanya di mana mereka bisa mendapatkan kalung serupa. Jawaban Suryokoco konsisten: “Buat sendiri.” Baginya, proses pembuatan secara mandiri merupakan bentuk penegasan niat dan penguat semangat kolektif.
“Kita bukan dewa penolong, kita cuma membersamai. Kalung ini adalah janji untuk tetap mendampingi sampai pemerintah sadar dan pintu langit terbuka bagi nasib kawan-kawan,” pungkasnya. Kalung itu kini menjadi saksi bisu bahwa advokasi bukan sekadar teriakan di jalanan, melainkan pengingat yang melekat di nadi perjuangan.
Redaksi Desa Merdeka

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.