Opini [DESA MERDEKA] Lili Hernawati, M.Si., Dosen Ilmu Aktuaria, Institut Teknologi Kalimantan
Indonesia Emas 2045 menekankan wacana pendidikan di luar angka belaka. Penilaian internasional mengungkapkan keterampilan melek huruf dan matematika Indonesia berada di bawah rata-rata OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). Skor rendah terlalu sering ditafsirkan sebagai kualitas pendidikan yang rendah. Namun, kinerja akademik terkait dengan lingkungan belajar dan kesejahteraan emosional (OECD, 2017; Schleicher, 2018). Terlalu fokus pada peringkat dapat mengabaikan aspek relasional penting dari pendidikan.
Penelitian menunjukkan bahwa tantangan pendidikan di negara berkembang berasal dari kualitas interaksi kelas, bukan hanya kurikulum. Sebuah studi oleh Roorda et al. (2011) menyoroti pentingnya ikatan emosional guru-siswa dalam keterlibatan dan kesuksesan belajar. Jennings dan Greenberg (2009) juga menemukan bahwa iklim emosional kelas memengaruhi prestasi siswa dan kesejahteraan guru. Dengan demikian, masalah pendidikan saat ini bersifat struktural dan relasional, bukan semata-mata teknis.
Mengkritik pendekatan yang digerakkan oleh angka tidak mengabaikan nilai pengukuran. Angka harus berfungsi sebagai alat diagnostik, bukan tujuan akhir. Fokus harus bergeser dari obsesi hasil ke peningkatan pengalaman belajar. Di sini, hubungan emosional antara guru dan siswa menjadi penting. Agar Indonesia Emas 2045 dapat menumbuhkan individu yang tangguh, pendidikan harus memprioritaskan ruang kelas yang manusiawi di mana emosi dipupuk sebagai dasar untuk pembelajaran yang bermakna.
RUANG EMOSIONAL DAN RESISTENSI REALITAS PENDIDIKAN
Sekolah yang sebenarnya adalah lingkungan emosional di mana siswa mengeksplorasi identitas dan hubungan mereka. Emosi seperti keamanan atau ketakutan menyertainya proses belajar di ruang kelas. Penelitian menunjukkan bahwa iklim emosional di ruang kelas, dibentuk oleh interaksi guru, secara signifikan mempengaruhi keterlibatan siswa dan pertumbuhan sosial. Ketika pendidikan hanya berfokus pada kurikulum, aspek emosional sering diabaikan, namun sangat penting untuk membangun kepercayaan diri dan empati. Oleh karena itu, mengenali sekolah sebagai ruang emosional adalah pengakuan praktis bahwa pembelajaran terjadi dalam koneksi manusia, bukan dalam ruang isolasi.
Tantangan bagi guru berasal dari beban struktural. Tuntutan administrasi yang tinggi menghambat kemampuan guru untuk membentuk hubungan emosional dengan siswa. Studi internasional UNESCO (2023) mengungkapkan bahwa guru di negara berkembang menghabiskan waktu yang berlebihan untuk dokumentasi, membatasi interaksi pedagogis yang bermakna. Demikian pula, Chang et al. (2022) menemukan bahwa tekanan evaluasi di Indonesia membuat guru fokus pada penyelesaian materi daripada menciptakan lingkungan kelas yang mendukung, menghasilkan dinamika guru-murid fungsional daripada menguatkan aspek relasional emosi guru-murid.
Tantangan lain adalah kesejahteraan emosional guru. Penelitian pasca-pandemi menunjukkan peningkatan kelelahan emosional di antara guru, yang berdampak buruk pada interaksi dengan siswa. OECD (2023) menemukan bahwa guru yang stres menggunakan gaya manajemen kelas yang kaku, meskipun mengakui perlunya hubungan positif. Sebuah studi oleh Benevene dkk. (2024) mencatat bahwa kelelahan guru berdampak negatif pada persepsi siswa tentang dukungan emosional. Temuan ini menyiratkan bahwa hubungan emosional yang lemah di sekolah muncul dari masalah sistemik dalam pendidikan, bukan hanya kekurangan guru individu.
MENGAPA RELASI EMOSI GURU DAN MURID PENTING?
Memperkuat ikatan emosional antara guru dan siswa sangat penting untuk mengembangkan sumber daya manusia yang kuat, karena kualitas manusia muncul dari hubungan yang bermakna, bukan hanya pengetahuan. Para ahli sepakat bahwa hubungan emosional yang mendukung sangat penting untuk perkembangan kognitif yang tinggi. Vygotsky mencatat bahwa belajar adalah ruang sosial, dan penelitian terbaru mendukung pandangan ini. Sebuah meta analisis mengungkapkan bahwa siswa dengan ikatan emosional positif dengan guru menunjukkan motivasi yang lebih besar, keterlibatan, dan keberhasilan akademik jangka panjang. Dengan demikian, koneksi emosional sangat penting untuk pembelajaran yang bermakna, bukan hanya tambahan.
Penelitian lain menunjukkan bahwa regulasi emosional dan keamanan psikologis secara langsung mempengaruhi pemikiran kritis, kreativitas, dan pengambilan keputusan. Immordino-Yang menekankan integrasi emosi dan kognisi. Ini sejalan dengan laporan OECD yang menghubungkan keterampilan seperti empati dan pengendalian diri dengan kesuksesan akademis dan sosial di kemudian hari. Sekolah yang memelihara hubungan guru-siswa yang kuat menumbuhkan lingkungan belajar yang tangguh, terutama selama krisis.
Di Indonesia Emas 2045, meningkatkan hubungan emosional sangat penting karena tantangan masa depan membutuhkan keterampilan teknis di samping kematangan sosial dan moral. Sumber daya manusia yang kuat harus bekerja sama dan mengelola konflik secara etis dalam masyarakat yang beragam. Banyak masalah sosial berasal dari kegagalan pendidikan untuk mengatasi aspek emosional sejak dini. Dengan demikian, meningkatkan hubungan emosional guru-siswa adalah strategi jangka panjang yang penting untuk perkembangan manusia. Pendekatan relasional ini menjadi dasar bagi Indonesia Emas, menghasilkan individu yang tidak hanya cerdas tetapi juga dewasa secara emosional dan sosial.
INDONESIA EMAS DIMULAI DARI KELAS YANG MANUSIAWI SECARA EMOSI
Indonesia Emas 2045 dimulai dengan fokus pada kemanusiaan dan bukan hanya statistik. Ruang kelas yang manusiawi memprioritaskan siswa sebagai individu dengan pikiran dan perasaan. Belajar di sini menekankan mengembangkan proses berpikir dan perilaku daripada hanya mencapai tujuan. Siswa yang aman secara emosional lebih tangguh, mengambil risiko, dan mengelola perbedaan dengan lebih baik. Sebaliknya, menekan emosi dalam pendidikan dapat menyebabkan generasi yang tunduk dan rapuh.
Untuk menciptakan ruang kelas yang manusiawi, sistem pendidikan harus mengubah persepsi dirinya. Guru membutuhkan dukungan untuk menumbuhkan hubungan emosional yang sehat melalui pelatihan, kebijakan realistis, dan iklim yang mendukung. Evaluasi harus fokus pada hubungan dan lingkungan belajar, bukan hanya angka. Perubahan ini dapat membantu menumbuhkan kematangan emosional, mempromosikan empati dan tindakan etis. Dari ruang kelas yang manusiawi ini, Indonesia Emas 2045 membangun fondasi untuk hidup berdampingan yang cerdas dan matang secara emosi.
Alvianus Kristian Sumual, S.E., M.E. adalah seorang akademisi dan pakar ekonomi yang saat ini mengabdi sebagai Dosen Ilmu Aktuaria di Institut Teknologi Kalimantan (ITK).


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.