Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

LINGKUNGAN · 20 Jan 2026 10:24 WIB ·

Desa: Paru-Paru Dunia yang Terancam Hilang Akibat Perubahan Iklim


					Desa: Paru-Paru Dunia yang Terancam Hilang Akibat Perubahan Iklim Perbesar

Jakarta [DESA MERDEKA] Selama ini dunia memandang perubahan iklim sebagai isu ruang sidang di gedung-gedung pencakar langit. Namun, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, membawa perspektif yang lebih mendesak: perubahan iklim adalah ancaman eksistensial bagi desa, fondasi terkecil kehidupan manusia.

Dalam forum internasional Global Knowledge Exchange on Community-Driven Approaches for Resilience di Jakarta, Senin (19/1/2026) malam, Yandri memaparkan fakta memilukan. Di Aceh, sejumlah desa dilaporkan “hilang” dari peta akibat terjangan banjir luar biasa yang dipicu ketidakseimbangan iklim. Fenomena serupa juga mengancam wilayah pedesaan di Sumatera Barat, Jawa Tengah, hingga Sulawesi Utara.

“Desa adalah wilayah yang paling rentan saat bencana terjadi. Isu ini bukan hanya tanggung jawab Indonesia, melainkan kewajiban kolektif seluruh penghuni bumi,” tegas Yandri di hadapan delegasi dari 12 negara, mulai dari Thailand hingga Peru dan Uzbekistan.

Desa Sebagai Penyelamat Umat Manusia
Sudut pandang solutif  yang ditawarkan adalah menempatkan desa bukan sekadar sebagai korban, melainkan sebagai subjek utama penyelamat dunia. Indonesia, yang dikenal sebagai paru-paru dunia, menggantungkan kelestarian lingkungannya pada tata kelola ribuan desanya.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto melalui Asta Cita ke-6, pembangunan dimulai dari bawah. Kementerian Desa PDT kini menggencarkan “12 Aksi Bangun Desa” yang tidak hanya berfokus pada ekonomi dan ketahanan pangan, tetapi juga kedaulatan air dan energi hijau.

“Dua belas aksi ini ujungnya adalah menyelamatkan bumi, menyelamatkan kita semua, dan menyelamatkan umat manusia,” tambah pria kelahiran Bengkulu Selatan tersebut.

Kolaborasi Lintas Benua di Hari Desa Nasional
Lokakarya yang bekerja sama dengan Bank Dunia ini merupakan rangkaian peringatan Hari Desa Nasional 2026 yang sebelumnya telah dipusatkan di Boyolali. Forum ini menjadi ruang bagi negara-negara seperti Madagaskar, Tajikistan, hingga Papua Nugini untuk berbagi data dan pengalaman dalam membangun ketahanan desa berbasis komunitas.

Ingo Wiederhofer dari Bank Dunia beserta perwakilan kementerian terkait turut hadir memberikan input konstruktif. Yandri berharap kolaborasi ini melahirkan rekomendasi kebijakan yang tepat sasaran, agar desa-desa di masa depan tidak lagi hilang tertelan bencana, melainkan menjadi benteng pertahanan iklim yang kokoh.

Hadir mendampingi Mendes dalam acara tersebut, Wamendes PDT Ahmad Riza Patria dan Sekjen Taufik Madjid, yang menegaskan komitmen Indonesia dalam mengawal kedaulatan desa di kancah global.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 27 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menagih Janji Dam di Rumah Warga Sungai Duo

6 Agustus 2026 - 15:27 WIB

Nestapa Karangsegar: Siklus Abadi Banjir dan Krisis Air

30 Juli 2026 - 15:16 WIB

Dari Sampah Menjadi Berkah di Akar Rumput Singosari

24 Juli 2026 - 07:32 WIB

Camat Singosari menerima penghargaan Kecamatan Inovatif pada Innovative Government Award (IGA) Kabupaten Malang 2026 melalui inovasi Sanggar Lingkungan Singosari.

Puting Beliung Terjang Talun Rejo, Warga Menanti Bantuan Pemerintah

5 Juli 2026 - 20:33 WIB

Bumi Butuh Healing: Warga Batu Busuak Belajar Rawat Tanah

25 Juni 2026 - 05:31 WIB

Darurat Sampah: Desa di Pati Wajib Miliki Perdes Kebersihan

18 Juni 2026 - 06:08 WIB

Trending di LINGKUNGAN