Tapanuli Selatan, Sumatera Utara [DESA MERDEKA] – Masyarakat Desa Perkebunan I, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, kini dicekam ketakutan. Seekor induk harimau Sumatra beserta anaknya dilaporkan muncul di area perkebunan hingga mendekati permukiman warga pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut baru-baru ini.
Kemunculan satwa predator ini pertama kali disadari sejak Kamis sore (11/12/2025). Kepala Desa Perkebunan, Julianto, mengonfirmasi bahwa harimau tersebut terus berkeliaran di sekitar desa. Salah seorang warga, Irfan, menceritakan pengalaman mendebarkannya saat berpapasan langsung dengan induk harimau dan anaknya di kebun. Irfan segera menyelamatkan diri dan melaporkan kejadian itu ke pihak desa.
Ketegangan meningkat pada akhir pekan (13-14 Desember), saat warga melihat harimau tersebut melintasi jalan raya pada malam hari. Kekhawatiran warga makin nyata setelah ditemukan jejak kaki besar yang diduga milik harimau di halaman rumah penduduk.
Habitat Terganggu Menjadi Pemicu
Warga menduga rusaknya habitat akibat bencana alam di wilayah Tapanuli Selatan menjadi penyebab utama harimau tersebut turun gunung. Diduga, satwa yang dilindungi ini mendekati perkampungan untuk mencari mangsa karena sumber makanan di hutan berkurang atau akses mereka terputus akibat longsor.
Peristiwa ini bukan yang pertama kalinya. Menurut catatan Julianto, beberapa tahun lalu harimau juga pernah masuk ke wilayah desa tersebut dan memangsa ternak sapi milik warga. Selain masyarakat lokal, para pekerja proyek Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan yang tengah bertugas di lokasi juga memberikan kesaksian serupa mengenai keberadaan induk harimau tersebut.
Respons Pemerintah dan Langkah Keamanan
Hingga saat ini, pemerintah desa telah mengeluarkan imbauan keras agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta untuk:
- Tidak pergi ke kebun sendirian pada siang hari.
- Menghindari aktivitas di luar rumah pada malam hari.
- Segera melapor jika menemukan jejak atau penampakan baru.
Di sisi lain, respons dari pihak terkait masih dalam tahap koordinasi awal. Perwakilan BKSDA Sipirok, Manogor, saat dikonfirmasi telah meminta titik koordinat lokasi kemunculan satwa tersebut. Ia juga menyarankan agar informasi lebih lanjut mengenai penanganan satwa liar di Tapsel dikomunikasikan melalui Humas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara.
Warga berharap pihak BBKSDA segera turun ke lapangan untuk melakukan evakuasi atau penghalauan agar tidak terjadi konflik antara manusia dan satwa liar yang dapat berujung pada korban jiwa.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.