Indramayu [DESA MERDEKA] – Kabar kurang sedap datang dari Indramayu. Bumi agraris ini ternyata tengah bergulat dengan persoalan sampah yang cukup pelik di tingkat desa. Bayangkan saja, dari 309 desa yang ada, lebih dari separuhnya, tepatnya 218 desa (sekitar 70,5%), belum punya sistem pengelolaan sampah yang oke punya! Fakta ini diungkapkan oleh Bapak Hilmi Hilmansyah, ahli planologi keren yang juga Koordinator Kabupaten Indramayu untuk program Patriot Desa Jawa Barat.
Lebih lanjut, Pak Hilmi membeberkan data yang bikin geleng-geleng kepala. Ternyata, masih ada 17 desa di Indramayu yang asyik melakukan open dumping alias buang sampah sembarangan! Kebiasaan ini tentu saja mengancam keindahan lingkungan dan kesehatan warga sekitar.
Kenapa bisa begini? Ternyata, infrastruktur pengelolaan sampah di desa-desa Indramayu memang masih minim. Kebanyakan masih mengandalkan cara tradisional seperti membakar atau menimbun sampah sendiri. Padahal, Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang modern baru ada di 15 desa saja. Belum lagi, kurangnya orang pintar yang ahli mengelola sampah dan edukasi yang masih kurang juga ikut memperparah situasi ini.
Meski begitu, ada juga kabar baiknya, lho! Sebanyak 27 desa sudah mencoba sistem pengelolaan sampah gabungan, seperti membuat kompos dan mendaur ulang. Sayangnya, ada juga 32 desa yang dilaporkan belum melakukan pengelolaan sampah sama sekali. Waduh! Kondisi ini membuat Indramayu jadi kabupaten dengan desa terbanyak di Jawa Barat yang belum punya sistem pengelolaan sampah yang jelas.
Kalau dilihat dari skala provinsi, Indramayu masih ketinggalan nih. Dari 19 kabupaten/kota, Indramayu ada di peringkat ke-13 untuk implementasi TPS3R dan peringkat ke-10 untuk penggunaan sistem pengelolaan sampah kombinasi. Jauh banget ya dari kabupaten lain yang desanya lebih sedikit tapi pengelolaan sampahnya lebih maju.
Ancaman buat Indramayu juga nggak main-main. Pak Hilmi mengingatkan, kalau masalah sampah ini nggak segera diatasi, Indramayu bisa kehilangan kesempatan dapat bantuan dana dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat! Gubernur Jawa Barat sudah tegas bilang, desa yang nggak punya sistem pengelolaan sampah yang baik, bye-bye dana bantuan!
Nah, biar Indramayu nggak terus berkutat dengan masalah sampah ini, Pak Hilmi punya beberapa ide cemerlang. Salah satunya, bikin TPS3R bareng-bareng untuk beberapa desa sekaligus. Ini bisa jadi solusi hemat karena sumber daya terbatas. Selain itu, melibatkan program Patriot Desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga penting untuk menggerakkan pengelolaan sampah di tingkat desa. Jangan lupa juga, meningkatkan kemampuan pengelola sampah di desa melalui pelatihan dan pendampingan itu kunci sukses jangka panjang.
Kerja sama dengan perusahaan swasta dan organisasi masyarakat juga perlu digenjot untuk mempercepat penggunaan teknologi dan cara pengelolaan sampah yang lebih modern. Pak Hilmi mencontohkan Gerakan Ekonomi Sirkular Indramayu (Genius-Ayu) yang mengubah limbah organik jadi pelet. Ini langkah keren yang perlu dukungan lebih luas. Bahkan, teknologi seperti mesin pencacah plastik sampai 3D printing dari sampah daur ulang juga bisa membuka peluang ekonomi baru buat warga desa.
“Tujuan kita bukan cuma Indramayu bersih dari sampah, tapi juga bagaimana sampah bisa jadi uang. Untuk mewujudkan ini, semua pihak harus bekerja sama dan saling mendukung,” pungkas Pak Hilmi dengan penuh harap.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.