Bogor [DESA MERDEKA] – Dana desa, yang seharusnya menjadi pendorong utama kesejahteraan masyarakat di pelosok negeri, sayangnya masih rentan terhadap penyelewengan. Pakar Sosiologi Pedesaan dari IPB University, Prof. Sofyan Sjaf, dengan tegas mengingatkan akan krusialnya transparansi penggunaan dana desa dan partisipasi aktif masyarakat dalam proses pengawasannya. Tanpa kedua elemen penting ini, potensi dana desa untuk meningkatkan kualitas hidup warga justru terancam sia-sia.
Kepada Humas IPB University pada 22 Februari lalu, Prof. Sofyan Sjaf mengungkapkan keprihatinannya. “Belum terwujudnya transparansi penggunaan dana desa serta minimnya partisipasi dan pengawasan masyarakat membuka celah terjadinya praktik penyelewengan,” ujarnya. Pernyataan ini bukan sekadar asumsi belaka. Hasil survei yang dilakukan oleh Kompas dalam satu dekade terakhir menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan: tingkat partisipasi warga dalam mengawasi alokasi dana desa masih sangat rendah.
Prof. Sofyan Sjaf menginterpretasikan data ini sebagai indikasi bahwa ruang bagi masyarakat untuk memahami secara utuh pemanfaatan dana desa belum terbuka lebar dan transparan seperti yang diharapkan. “Pola-pola pengambilan keputusan pembangunan di tingkat desa, seperti musyawarah desa atau dusun, tampaknya belum sepenuhnya memberikan ruang partisipasi yang inklusif bagi seluruh warga,” imbuhnya.
Lebih lanjut, hasil studi mendalam Prof. Sofyan Sjaf mengenai indeks kesejahteraan desa memberikan gambaran yang cukup memprihatinkan. Dari total 289 desa yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, hanya sebagian kecil, yakni sekitar 0,2 persen saja, yang berhasil mencapai kategori kesejahteraan tinggi. Sementara itu, mayoritas desa, mencapai 67 persen, masih berkutat dalam kategori kesejahteraan rendah, dan sisanya berada di kategori sedang.
“Persentase ini mengindikasikan bahwa upaya pemerataan pembangunan yang mengandalkan sumber-sumber pembiayaan desa, termasuk dana desa, belum secara optimal berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata,” tegasnya. Ia juga menyoroti lemahnya fondasi perencanaan pembangunan di tingkat desa. Proses musyawarah desa maupun dusun seringkali belum didasarkan pada data yang akurat dan belum sepenuhnya memprioritaskan kebutuhan riil serta kesejahteraan warga.
Untuk membalikkan tren negatif ini, Prof. Sofyan Sjaf memberikan sejumlah rekomendasi konstruktif. Ia mendorong para kepala desa dan aparat desa untuk memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi secara komprehensif posisi kesejahteraan masyarakat. Identifikasi ini mencakup lima aspek fundamental: pemenuhan kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan), akses terhadap pendidikan dan kebudayaan, layanan kesehatan yang memadai, jaminan hak asasi manusia (HAM), serta ketersediaan infrastruktur dan lingkungan hidup yang layak.
“Ketika kelima aspek ini terpetakan dengan jelas, maka musyawarah di tingkat desa maupun dusun akan berjalan lebih efektif. Dengan demikian, setiap warga dapat memahami posisinya dalam konteks kesejahteraan desa secara keseluruhan,” jelas Prof. Sofyan Sjaf. Selain itu, ia menyarankan agar setiap desa menyusun rencana kegiatan pembangunan yang berbasis pada informasi data yang valid. Hasil identifikasi posisi kesejahteraan masyarakat ini juga perlu disosialisasikan secara luas kepada publik melalui berbagai saluran, mulai dari teknologi informasi, media sosial, hingga forum-forum publik. Evaluasi berkala terhadap pelaksanaan rencana pembangunan juga menjadi langkah krusial untuk memastikan dampak positif bagi kemajuan setiap desa.
Profil Singkat Prof. Dr. Sofyan Sjaf:
Prof. Dr. Sofyan Sjaf adalah seorang akademisi terkemuka dan peneliti yang memiliki keahlian mendalam dalam bidang sosiologi pedesaan. Beliau saat ini menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekologi Manusia (Fema) di IPB University, sebuah institusi pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia. Perjalanan akademiknya dimulai dengan menyelesaikan pendidikan Sarjana (S1) di Fakultas Peternakan, yang kemudian dilanjutkan dengan meraih gelar Magister (S2) dan Doktor (S3) di Program Studi Sosiologi Pedesaan IPB University.
Dengan dedikasi yang tinggi terhadap isu-isu pembangunan pedesaan, Prof. Sofyan Sjaf aktif melakukan berbagai penelitian yang menghasilkan publikasi-publikasi ilmiah yang relevan. Fokus penelitiannya mencakup transformasi desa yang dinamis, dinamika politik etnik di tingkat lokal, serta perkembangan ekonomi pedesaan yang kompleks. Selain kiprahnya di dunia akademik, Prof. Sofyan Sjaf juga terlibat dalam berbagai posisi strategis yang memiliki dampak signifikan terhadap pembangunan nasional. Beliau menjabat sebagai Ketua Majelis Percepatan Transformasi Desa di ICMI Pusat, sebuah organisasi intelektual Muslim yang berpengaruh, serta Presidium MW KAHMI Jawa Barat, wadah alumni Himpunan Mahasiswa Islam di tingkat provinsi. Salah satu inovasi pentingnya, Data Desa Presisi, telah mendapatkan pengakuan luas melalui berbagai penghargaan bergengsi dan perlindungan hak kekayaan intelektual. Karya-karya ilmiahnya juga telah dipublikasikan dalam berbagai jurnal internasional bereputasi, membuktikan kontribusinya yang signifikan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pemberdayaan masyarakat pedesaan.
Redaksi Desa Merdeka

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.