Batam, Kepulauan Riau [DESA MERDEKA] – Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) RI, Ni Luh Puspa, mengunjungi Hutan Mangrove Pandang Tak Jemu di Kampung Tua Bakau Serip, Nongsa, Kota Batam, Kamis (1/1/2026). Dalam kunjungan perdana ke destinasi wisata Batam ini, Wamenpar menegaskan dukungannya terhadap konsep regenerative tourism, sebuah tren wisata di mana pengunjung tidak hanya menikmati alam, tetapi juga berkontribusi langsung pada pelestarian ekosistem.
Sebagai bentuk komitmen nyata, Ni Luh Puspa melakukan aksi penanaman mangrove di kawasan seluas 7 hektare tersebut. Ia mengapresiasi transformasi kawasan yang dulunya merupakan lokasi pembuangan sampah liar, namun kini menjadi destinasi unggulan yang masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.
“Saya sangat mendukung konsep regenerative tourism. Artinya, wisatawan ikut menjaga alam, seperti menanam dan merawat mangrove. Desa Wisata Bakau Serip memiliki peran strategis, terutama untuk edukasi lingkungan bagi generasi muda,” ujar Ni Luh Puspa.

Keunikan Terapi Alam dan Hipnoterapi Mangrove
Ketua Desa Wisata Mangrove Pandang Tak Jemu, Gari Dafit Semet, menjelaskan bahwa destinasi ini menawarkan pengalaman yang berbeda melalui program hipnoterapi alam. Wisatawan, terutama dari mancanegara seperti Singapura, sangat meminati aktivitas relaksasi di alam terbuka, termasuk terapi memeluk pohon mangrove sebagai sarana melepas stres.
“Wisatawan diajak membersihkan sampah plastik, menanam bibit, lalu relaksasi. Banyak yang merasa bahagia dan rileks setelah mencurahkan isi hati di tengah hutan bakau,” ungkap Gari.
Sepanjang tahun 2025, tingkat kunjungan tercatat meningkat signifikan dengan rata-rata 500 pengunjung per hari. Wisatawan mancanegara masih mendominasi sekitar 60 persen dari total kunjungan, mencakup turis dari Singapura, Malaysia, Korea, Taiwan, hingga Eropa.

Pengembangan Infrastruktur dan Ekonomi Lokal
Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata berencana menambah jembatan tracking sepanjang 100 meter pada tahun 2026. Penambahan ini diproyeksikan menjadi daya tarik baru karena memungkinkan wisatawan melihat langsung pemandangan ke arah Singapura dan Batam Center dari rimbunnya hutan bakau.
Selain pelestarian lingkungan, kawasan ini menjadi penggerak ekonomi warga setempat. Keuntungan dari sektor wisata digunakan untuk pemberdayaan masyarakat, termasuk pemberian beasiswa bagi 15 anak tidak mampu di sekitar kawasan.
Gari menambahkan, meski kunjungan terus meroket, pihaknya tetap membatasi jumlah wisatawan guna menjaga keseimbangan ekosistem. “Wisata bukan sekadar datang dan berfoto, tapi meninggalkan jejak kebaikan untuk alam,” pungkasnya.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.