Tarakan, Kalimantan Utara [DESA MERDEKA] – Kelapa sawit bukan sekadar komoditas perkebunan, melainkan instrumen kedaulatan di wilayah perbatasan. Sudut pandang ini mengemuka saat Muhammad Khoiruddin resmi dilantik sebagai Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Kalimantan Utara periode 2025–2030 di Ballroom Hotel Lotus Panaya, Tarakan, Kamis (8/1/2026).
Pelantikan yang dipandu oleh Sekjen DPP APKASINDO, Dr. Rino Afrino, ini bukan sekadar seremoni organisasi. Momen ini menjadi deklarasi bahwa petani sawit di beranda terdepan Indonesia siap naik kelas melalui hilirisasi berbasis ekonomi rakyat dan penguatan sumber daya manusia (SDM).
Memutus Rantai “Jalan Sendiri” Petani Kecil
Selama ini, petani sawit rakyat di Kalimantan Utara seringkali berjuang tanpa pendampingan yang solid. Di bawah kepemimpinan Khoiruddin dan Sekretaris Ardiansyah, APKASINDO Kaltara bertekad menjadi “rumah besar” untuk perlindungan hukum dan penguatan posisi tawar.
“Amanah ini adalah tentang pelayanan. Kami ingin memastikan petani kecil tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, terutama dalam menghadapi dinamika harga dan tantangan industri global,” ujar Khoiruddin.
Strategi “Pulang Kampung” dengan Inovasi
Salah satu terobosan out of the box yang diusung adalah investasi masa depan melalui jalur pendidikan. Mengingat posisi geografis Kaltara yang strategis namun menantang, APKASINDO akan mengawal ketat beasiswa BPDPKS bagi anak-anak petani sawit ke-41 perguruan tinggi ternama di Indonesia.
Targetnya jelas: menciptakan regenerasi petani milenial yang melek teknologi. “Kami ingin anak-anak petani Kaltara kembali ke daerah dengan membawa inovasi untuk memodernisasi kebun orang tua mereka,” tambah Khoiruddin.
Keadilan Harga dan Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Selain SDM, transparansi harga Tandan Buah Segar (TBS) menjadi prioritas bulanan. APKASINDO Kaltara berkomitmen hadir dalam setiap rapat penetapan harga untuk menjamin keadilan bagi perusahaan dan kesejahteraan bagi petani.
Senada dengan hal tersebut, Dr. Rino Afrino menekankan bahwa stabilitas sektor sawit adalah kunci mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen. Ia menyebut sawit sebagai “tanaman kehidupan” karena pengaruhnya yang luas mulai dari pangan hingga energi terbarukan.
“Sawit tumbuh paling subur di Indonesia dan dimiliki secara luas oleh rakyat. Ini adalah instrumen paling efektif untuk mengentaskan kemiskinan,” tegas Rino.
Dengan kehadiran pengurus baru di provinsi ke-25 ini, APKASINDO Kaltara siap membuktikan bahwa dari wilayah perbatasan, sawit tetap menjadi masa depan dan tumpuan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Aktivis Buruh DesaMerdeka Kalimantan Utara


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.