Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

SOSBUD · 2 Jun 2025 07:43 WIB ·

Upacara Adat Ngrowhod Desa Girikerto: Ungkapan Syukur Panen Melimpah


					Gunungan krowotan berisi aneka hasil bumi diarak dalam Upacara Adat Ngrowhod, wujud syukur masyarakat Desa Girikerto, Sleman. Perbesar

Gunungan krowotan berisi aneka hasil bumi diarak dalam Upacara Adat Ngrowhod, wujud syukur masyarakat Desa Girikerto, Sleman.

Sleman, DIY [DESA MERDEKA] Masyarakat Desa Girikerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki tradisi unik sebagai wujud syukur atas hasil panen yang melimpah dan dijauhkannya dari musibah: Upacara Adat Ngrowhod. Tradisi ini bukan sekadar perayaan biasa, melainkan cerminan filosofi leluhur yang kaya makna.

Nama “Ngrowhod” sendiri, mengutip laman Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, dapat diartikan sebagai “ngleluri ombyak hametri koncara”. Frasa ini mengandung arti melestarikan kebiasaan atau kegiatan baik yang dapat membuat situasi lebih baik dan dikenal banyak orang. Lebih dari itu, Ngrowhod sebenarnya berasal dari kebiasaan puasa ngrowot yang dilakukan nenek moyang. Puasa ngrowot bertujuan mengurangi kesenangan dan kenikmatan duniawi dengan hanya mengonsumsi krowotan, yaitu makanan dari hasil tanaman yang terpendam di dalam tanah atau dikenal juga dengan pala kapendhem. Jenis makanan yang dimaksud antara lain ubi, ketela, talas, dan gadung.

Prosesi Sakral Ngrowhod

Upacara adat ini diawali dengan iring-iringan 13 pasang pager ayu dan pager bagus. Angka 13 ini melambangkan jumlah dusun atau padukuhan yang ada di Desa Girikerto. Setelah menerima kendi, mereka kemudian menuju sendang panguripan untuk mengambil air. Perjalanan sakral ini dikawal oleh bergadang ngrowhod, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta dipimpin oleh cucuk lampah dan arjuna.

Setibanya kembali di balai desa, rombongan bersiap mengarak gunungan yang telah dilengkapi dengan tumpeng dan air dari sendang panguripan. Gunungan ini, yang disebut gunungan krowotan, berisi berbagai hasil bumi seperti buah dan umbi-umbian, yang semuanya melambangkan kesuburan dan keberlimpahan.

Puncak Acara dan Filosofi Berbagi

Puncak acara Ngrowhod adalah pembagian gunungan kepada masyarakat. Momen ini bukan hanya sekadar pembagian makanan, tetapi juga wujud syukur dan berbagi sukacita kepada sesama. Selain itu, sebagai bentuk rasa syukur lainnya, masyarakat juga menyantap nasi gudangan atau urap bersama-sama di balai desa sebelum acara kirab dimulai.

Tradisi Ngrowhod adalah potret kekayaan budaya Indonesia yang sarat makna. Ia tidak hanya merayakan hasil panen, tetapi juga mengajarkan pentingnya berbagi, bersyukur, dan melestarikan kearifan lokal.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 119 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

UMKM Lokal Hidupkan Festival Kuliner 100 Tahun Jam Gadang

21 Juni 2026 - 22:20 WIB

Ritual Sedekah Gunung, Kekuatan Budaya Warga Desa Lencoh

18 Juni 2026 - 04:22 WIB

Muharam di Desa: Momentum Revolusi Mental dan Etos Kerja

17 Juni 2026 - 15:31 WIB

Mandeh Siti Manggopoh, Inspirasi Pembangunan Desa Agam Modern

16 Juni 2026 - 13:46 WIB

Prasasti Kuno Buktikan Akar Sejarah Literasi Desa Nusantara

14 Juni 2026 - 08:22 WIB

Batik Singosari: Dari Sebatang Lilin Menuju Pengakuan Nasional

14 Juni 2026 - 05:43 WIB

Trending di SOSBUD