Tulungagung, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Kabar duka menyelimuti jagat pers Jawa Timur pada Jumat pagi, 9 Januari 2026. Mashuri, salah satu sosok jurnalis paling berpengaruh dan senior di Kabupaten Tulungagung, dikabarkan telah berpulang ke Rahmatullah. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang wartawan, melainkan hilangnya salah satu “kompas etika” yang selama ini menjadi panutan bagi jurnalis muda di daerah tersebut.
Kepala Biro media ketik.com Tulungagung, Sugeng Hariyadi atau yang akrab disapa Hariya Liu, memberikan kesaksian langsung mengenai dedikasi almarhum. Menurutnya, Mashuri bukan hanya jurnalis yang piawai merangkai kata, tetapi seorang profesional yang mampu menjaga independensi di tengah derasnya dinamika sosial dan politik lokal.
“Almarhum Mashuri adalah potret jurnalis ideal. Beliau sangat profesional, independen, dan selalu mengedepankan tanggung jawab dalam setiap informasi yang disampaikan secara berimbang,” kenang Liu saat melayat ke rumah duka.
Humor dan Loyalitas di Balik Pena Tajam
Di mata rekan-rekan seprofesi, khususnya yang tergabung dalam Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Kabupaten Tulungagung, Mashuri dikenal memiliki kepribadian unik. Meski tulisannya tajam dan kritis, dalam kesehariannya ia adalah sosok humoris yang mampu mencairkan suasana.
Dedikasinya terhadap kebenaran menjadikannya figur yang dihormati lintas generasi. Bagi jurnalis muda, almarhum adalah mentor yang tidak pelit ilmu. Sikapnya yang santun dan terbuka membuat proses transfer nilai-nilai jurnalistik berjalan secara organik tanpa kesan menggurui.
Warisan Integritas untuk Generasi Penerus
Selama kariernya, Mashuri konsisten meliput berbagai peristiwa penting yang membentuk sejarah Tulungagung. Ia membuktikan bahwa profesi jurnalis bukan sekadar mencari berita, melainkan menjalankan mandat publik dengan integritas tinggi.
“Kami kehilangan sosok panutan. Atas nama pribadi dan keluarga besar IWOI Tulungagung, kami sampaikan duka cita mendalam. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT,” tambah Liu.
Kepergian Mashuri meninggalkan lubang besar dalam dunia pers lokal. Namun, pengabdiannya selama puluhan tahun menjadi warisan berharga bagi insan pers untuk tetap teguh menjaga independensi. Selamat jalan, Mashuri. Pena Anda mungkin telah berhenti bergerak, namun jejak kebenaran yang Anda tulis akan abadi dalam ingatan masyarakat Tulungagung.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.