Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 4 Mei 2025 18:27 WIB ·

Tradisi Melingkar dan Makanan Lokal Jadi Pelajaran Hidup


					<em>Peserta seminar "> Perbesar

Peserta seminar "Bahaya Makanan dan Minuman bagi Generasi Muda Papua" duduk melingkar sambil menikmati hidangan lokal sederhana.

Deiyai [DESA MERDEKA] – Aula Katolik Santo Yohanes Pemandi, Waghete 2, pada Selasa (29/4/2025) menjadi saksi kegiatan unik. Seminar “Bahaya Makanan dan Minuman bagi Generasi Muda Papua” tak hanya memberi ilmu, tetapi juga pengalaman budaya mendalam. Yapkema, penyelenggara acara ini, fokus pada pendidikan masyarakat dan pelestarian nilai lokal.

Usai seminar, peserta diajak duduk melingkar di lantai aula. Mereka bersantap bersama tanpa meja, tanpa kursi, menyatukan panitia dan peserta. Puncak acara makan ini menghidupkan kembali tradisi melingkar masyarakat Mee, simbol kesetaraan, kasih sayang, kebersamaan, dan berbagi yang diwariskan leluhur. Dalam lingkaran, semua setara, mengingatkan kisah kasih Yesus memberi makan ribuan orang.

“Duduk melingkar itu identitas kita,” ujar panitia. “Ada cinta, saling butuh, semua setara.”

Hidangan lokal pun istimewa: petatas, singkong, sayur rebus, dan ikan danau tanpa minyak. Menu sederhana ini selaras pesan seminar tentang bahaya makanan instan bagi kesehatan generasi muda.

Hubertus Takimai, penulis buku Apotek Hidup, menekankan hilangnya gizi dan munculnya penyakit kronis akibat makanan instan. “Kita kehilangan kesehatan, jati diri, dan kearifan lokal,” jelasnya. Mareselino Wegobi Pigai mengajak “kembali ke makanan kita sendiri” yang lebih sehat dan berkelanjutan. Naomi Edowai memaparkan dampak medis makanan instan, seperti kekurangan gizi hingga risiko kanker.

Sembari makan, peserta berdiskusi dan berbagi refleksi. Suasana santai namun bermakna ini menciptakan ruang renung yang jarang ditemui.

Bapak Pelipus Mote (62) sangat tersentuh. Ia terkesan pendekatan seminar yang menghidupkan nilai kebersamaan dan kearifan lokal. “Biasanya makan siang nasi kotak. Kali ini terharu, semua duduk bersama, makan makanan asli,” katanya haru. “Inilah cara bentuk karakter generasi muda.”

Peli mengutip pepatah, “Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.” Ia berharap acara serupa terus diadakan dan melibatkan anak muda agar generasi Mee tak lupa jati diri.

Kegiatan ini adalah ajakan mengenali diri, budaya, dan sumber daya lokal. Di era serba instan, acara ini bagai oase, membangunkan kesadaran hidup sehat dan bermakna dari hal sederhana: cara makan, teman makan, dan pilihan makanan. Yapkema berkomitmen mengadakan kegiatan serupa demi kesehatan dan keberlanjutan budaya Papua.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 181 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Lingkaran Setan Pesisir Meranti: Mengapa Kursi Kepala Desa Sepi Peminat?

14 Agustus 2026 - 15:37 WIB

Cegah Stunting, Posyandu Mawar Balitata Kawal Tumbuh Kembang Balita

12 Agustus 2026 - 17:21 WIB

Menggarami Lautan Lunang: Kritik Perda Bencana & Siasat APBDes

12 Agustus 2026 - 09:47 WIB

Dukung Sport Tourism, BOM Run 2026 Dongkrak Sektor UMKM Padang

9 Agustus 2026 - 17:56 WIB

Sinergi Antardesa: Cara Budi Prasetyawan Hidupkan Ekonomi Warga

8 Agustus 2026 - 01:33 WIB

Menjual Asa di Atas Kertas Birokrasi Desa

30 Juli 2026 - 15:42 WIB

Trending di RAGAM