Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

OPINI · 3 Mei 2026 20:59 WIB ·

Jual Beli Rekomendasi Kerja: Borok Pelayanan Desa Menjelutujung


					Jual Beli Rekomendasi Kerja: Borok Pelayanan Desa Menjelutujung Perbesar

Tana Tidung, Kalimantan Utara [DESA MERDEKA] – Mencari nafkah di sektor pertambangan kini bukan lagi soal adu keahlian, melainkan adu tebal kantong. Di Desa Menjelutujung, Kalimantan Utara, akses pekerjaan yang seharusnya menjadi hak setiap warga negara diduga telah berubah menjadi komoditas dagangan oknum pemerintah desa.

Ironisnya, praktik ini telah mengkristal menjadi pola. Calon tenaga kerja dilaporkan harus merogoh kocek hingga Rp5.000.000 hanya untuk mendapatkan selembar surat rekomendasi dari Pemerintah Desa sebelum diteruskan ke pihak perusahaan. Praktik pungutan liar (pungli) ini secara gamblang mencederai rasa keadilan dan integritas pelayanan publik.

Diskriminasi Berkedok Perlindungan Lokal
Pungutan jutaan rupiah tersebut kerap menyasar mereka yang dianggap sebagai “orang luar desa”. Dalih yang digunakan terdengar heroik: perlindungan tenaga kerja lokal. Namun, secara jernih terlihat bahwa alasan lokalitas hanyalah bungkus untuk melegalkan praktik tidak adil.

Status domisili atau asal daerah bukanlah dasar hukum yang sah untuk memungut biaya dalam proses rekrutmen. Fungsi Pemerintah Desa adalah memperjuangkan hak warga dan memberikan pelayanan, bukan melakukan komersialisasi jabatan. Ketika rekomendasi berubah menjadi transaksi, maka fungsi pelayanan telah bergeser menjadi “jual beli kesempatan hidup”.

Rantai Distribusi dan Hilangnya Marwah Forum
Peran forum perantara dalam rekrutmen di sektor tambang ini juga patut dipertanyakan. Forum yang seharusnya menjadi ruang aspirasi masyarakat berisiko terjebak menjadi bagian dari rantai distribusi rekomendasi berbayar. Jika integritas forum runtuh, maka tidak ada lagi ruang bagi masyarakat untuk mengadu.

Dampaknya sangat nyata. Kepercayaan masyarakat terhadap Pemerintah Desa Menjelutujung semakin terkikis, sementara perusahaan terseret dalam bayang-bayang ketidaktransparanan. Kondisi ini berbahaya bagi industri pertambangan yang menuntut profesionalisme tinggi; pekerjaan tidak lagi diberikan berdasarkan kemampuan, melainkan kemampuan membayar.

Hak Kerja Bukan Komoditas Dagangan
Pemerintah Desa Menjelutujung harus segera kembali pada fungsinya: melayani tanpa memungut. Perusahaan wajib memastikan rekrutmen berjalan transparan dan bebas intervensi. Sementara itu, masyarakat tidak boleh tinggal diam melihat ketidakadilan ini mengakar.

Jika praktik ini terus dibiarkan, yang hilang bukan hanya uang jutaan rupiah, melainkan harga diri dan masa depan generasi muda. Mencari kerja adalah hak konstitusional yang tidak boleh diperjualbelikan oleh siapa pun, dengan alasan apa pun.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 336 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Esai Budaya Halsel: Nilai Saruma yang Lestari di Desa

3 Oktober 2026 - 19:43 WIB

Bikin Berita Desa Pakai HP Kentang dan AI

22 September 2026 - 19:00 WIB

Ubah Website Desa Jadi Media Warga yang Seru

21 September 2026 - 18:52 WIB

Cara Mudah Bikin Tulisan Desa yang Hidup, dengan AI

20 September 2026 - 12:08 WIB

Siasat Ekspor Mikro Desa: Kirim Kiloan Penuh Cuan

19 September 2026 - 13:23 WIB

Dari Sapu Lidi Hingga Daun Salam: Saatnya Desa Berani Ekspor Mikro

18 September 2026 - 23:51 WIB

Trending di OPINI