Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

OPINI · 2 Mei 2026 07:09 WIB ·

Revolusi Jurnalisme Desa: Akhiri Pemujaan Tokoh Demi Kemajuan Warga


					Revolusi Jurnalisme Desa: Akhiri Pemujaan Tokoh Demi Kemajuan Warga Perbesar

Opini [DESA MERDEKA] Praktik jurnalisme feodal di tingkat desa kini berada di titik nadir. Alih-alih mengangkat potensi, pola pemberitaan yang hanya memusatkan narasi pada sosok Kepala Desa justru sedang “membunuh perlahan” inovasi warga. Ketika berita hanya menjadi panggung pencitraan perangkat desa, masalah sistemik seperti kerusakan infrastruktur dan ketimpangan anggaran akhirnya luput dari pengawasan publik.

Dampak Fatal Jurnalisme “Asal Kades Senang”
Pendekatan lama yang terlalu memuja figur berakibat fatal pada partisipasi masyarakat. Warga biasa seperti petani inovatif atau penggerak ekonomi mikro kehilangan panggung untuk menginspirasi. Dampaknya, partisipasi warga merosot karena mereka merasa kontribusinya tidak dianggap penting jika tidak masuk dalam pusaran drama kepemimpinan.

Lebih jauh, fokus pada personil membuat publik lupa mengkritisi transparansi anggaran. Inovasi desa yang bersifat sistemik—seperti bank sampah atau irigasi mandiri—sering kali layu sebelum berkembang karena tidak pernah direplikasi. Jurnalisme feodal tidak tertarik pada sistem, mereka hanya haus akan sosok untuk dipuji.

Lima Pilar Baru: Jurnalisme Desa yang Segar
Untuk keluar dari jebakan ini, diperlukan perombakan paradigma total melalui lima pilar jurnalisme desa yang baru:

  • Fokus Isu (Issue-Centric): Bertanya tentang masalah nyata, bukan siapa yang memimpin rapat.
  • Warga sebagai Subjek: Memberi ruang bagi suara warga terdampak, bukan sekadar objek foto.
  • Data sebagai Tulang Punggung: Berani membedah angka penyerapan APBDes secara faktual.
  • Advokasi Solutif: Berita harus memihak kepentingan publik dan mengajak warga bertindak.
  • Kolaborasi Antardesa: Mengangkat keberhasilan kolektif, bukan persaingan antar-tokoh.

Transformasi Nyata: Dari Seremonial ke Substansial
Sebagai contoh, berita kerja bakti tidak lagi berjudul “Kades Pimpin Bersih Desa”. Narasi baru harus bergeser menjadi “Bahu Jalan Longsor Picu Kecelakaan, Warga Desak Audit Dana Perbaikan”. Di sini, data laporan keuangan desa disandingkan dengan fakta lapangan, sehingga warga tahu bahwa usulan perbaikan mereka sejak tahun lalu belum juga terealisasi meski anggaran tersedia.

Perubahan ini memang berisiko memicu konflik dengan perangkat desa yang terbiasa dipuji. Namun, itulah harga yang harus dibayar demi jurnalisme yang menghormati martabat desa. Tanpa keberanian untuk merombak paradigma dari “siapa yang berkuasa” menjadi “apa yang bermasalah”, pembangunan desa hanya akan menjadi deretan angka di atas kertas tanpa dampak nyata bagi kehidupan warga.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 15 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Desa Tak Pakai Dolar, Tapi Impor Membebani?

18 Mei 2026 - 21:06 WIB

Sengketa Plasma Tana Tidung: Masyarakat Desa Terjepit Bagi Hasil

10 Mei 2026 - 23:56 WIB

Senjakala Etalase Ekonomi Jombang: Dibalik Gemerlap Digital dan Ancaman Kemiskinan

10 Mei 2026 - 15:31 WIB

Tambang Menjelutung: Produksi Batu Bara Lancar Tapi Keadilan Macet

8 Mei 2026 - 23:49 WIB

Akhiri Dominasi Jakarta Saat Desa Mulai Rebut Kendali Narasi

4 Mei 2026 - 12:13 WIB

Mahasiswa KKN: Katalisator atau Sekadar Tamu Dokumentasi Desa?

3 Mei 2026 - 22:01 WIB

Trending di OPINI