Opini [DESA MERDEKA] – Kedatangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke desa sering kali disambut sebagai harapan baru bagi digitalisasi informasi. Namun, realitas di lapangan menunjukkan pola yang kontradiktif. Alih-alih melahirkan jurnalisme desa yang kritis dan mendalam, kehadiran mahasiswa justru sering terjebak dalam rutinitas dokumentasi kegiatan seremonial yang akan hilang begitu masa penugasan berakhir.
Secara struktural, program KKN memang tidak dirancang untuk mencetak jurnalis. Dengan durasi singkat (1-2 bulan), mustahil bagi mahasiswa untuk memahami dinamika sosial yang kompleks atau membangun kepercayaan warga guna menggali isu sistemik. Orientasi mereka sering kali terpaku pada target program kampus—seperti jumlah plang yang dipasang atau pelatihan yang digelar—daripada mendengarkan suara warga yang sebenarnya.
Jebakan “Ilusi Kontribusi” di Balik Laporan
Kritik mendasar muncul ketika mahasiswa KKN mencoba menerapkan gaya jurnalisme kampus yang demokratis namun kurang membumi di desa. Mereka cenderung datang membawa “agenda proyek” daripada “telinga” untuk menyerap masalah warga. Akibatnya, laporan yang dihasilkan lebih menonjolkan aktivitas fisik mahasiswa daripada keberlanjutan dampak bagi warga desa.
Posisi mahasiswa KKN yang sering kali tinggal di rumah perangkat desa juga menciptakan hambatan independensi. Sulit bagi mereka untuk menulis secara kritis jika isu yang diangkat menyentuh kelalaian aparatur tempat mereka menumpang hidup selama bertugas. Paradoks ini membuat jurnalisme desa versi KKN hanya menjadi laporan kegiatan yang aman dan “indah di atas kertas”.
Mengubah Peran: Membangun Sistem, Bukan Konten
Agar kontribusi mahasiswa tidak sia-sia, paradigma KKN harus diubah. Alih-alih memaksakan diri menjadi jurnalis dadakan, mahasiswa lebih efektif berperan sebagai pelatih teknis bagi perangkat desa atau Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) yang sudah menetap di sana. Fokusnya harus bergeser dari sekadar menulis berita menjadi membangun infrastruktur sistem informasi.
Model yang lebih berkelanjutan meliputi pembuatan standar operasional prosedur (SOP) pelaporan, penyusunan modul pelatihan bagi warga, hingga pembangunan arsip digital desa yang terstruktur. Mahasiswa muda yang melek teknologi dapat mentransfer keterampilan visual storytelling atau penggunaan AI untuk analisis data lapangan kepada pemuda desa.
Solusi Strategis bagi Kemandirian Informasi
Masa depan informasi desa bergantung pada warga lokal, bukan tamu sementara. Universitas perlu mendesain KKN Tematik Jurnalisme dengan durasi lebih panjang bagi mahasiswa komunikasi, namun tetap dengan tujuan akhir pemberdayaan warga. Kuncinya adalah kolaborasi dengan media desa yang sudah ada, bukan memulai segala sesuatu dari nol yang kemudian ditinggalkan begitu saja.
Pada akhirnya, menggunakan mahasiswa KKN untuk menghidupkan jurnalisme desa tanpa pemberdayaan warga lokal ibarat membangun rumah di atas pasir. Fondasi yang kuat hanya bisa diletakkan oleh mereka yang tinggal dan mencintai desa tersebut setiap hari. Tugas mahasiswa hanyalah memberikan obor pertama, kemudian membiarkan warga desa yang menjaganya agar tetap menyala.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.