Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

OPINI · 1 Mei 2026 07:12 WIB ·

Hentikan Pemujaan Tokoh Dalam Berita Kegiatan Desa


					Hentikan Pemujaan Tokoh Dalam Berita Kegiatan Desa Perbesar

Opini [DESA MERDEKA] Budaya feodal di desa-desa Indonesia sering kali diperkuat oleh pola pemberitaan media lokal yang terlalu berpusat pada tokoh atau person-centric. Judul-judul seperti “Kepala Desa Memimpin Kerja Bakti” atau “Sekretaris Desa Meresmikan Posyandu” justru menjadi racun bagi demokrasi tingkat desa. Alih-alih memberdayakan, gaya jurnalisme ini mengubah aparat menjadi “raja kecil” yang seolah tak tersentuh kritik.

Masalah utama dari pola ini adalah hilangnya fungsi kontrol sosial. Ketika jurnalis hanya fokus pada seremoni pejabat desa, isu sistemik yang lebih krusial seperti gagalnya program stunting atau rusaknya akses air bersih menjadi kabur. Berita desa kehilangan daya tariknya di luar radius lima kilometer karena pembaca tidak menemukan relevansi isu, melainkan hanya drama individu yang membosankan.

Penyakit Feodalisme Digital di Desa
Media desa yang terjebak memuja tokoh secara tidak sadar mematikan peran warga biasa. Dampaknya sangat nyata: warga merasa tidak penting karena suara mereka tidak pernah muncul di berita. Hal ini menciptakan kultus individu di mana tugas rutin aparat dianggap sebagai prestasi luar biasa, padahal itu adalah kewajiban yang dibayar oleh negara.

Logika berita desa harus segera dibalik. Jurnalisme desa perlu bergeser dari “siapa tokohnya” menjadi “masalah apa yang sedang dihadapi warga”. Tanpa perubahan ini, media desa hanya akan menjadi alat publikasi kekuasaan yang ditinggalkan pembacanya karena dianggap tidak jujur dalam memotret realitas di lapangan.

Menggeser Fokus Ke Isu Dan Warga
Alternatif yang lebih segar dan berdampak adalah jurnalisme berbasis isu (issue-centric) dan warga (citizen-centric). Daripada menulis tentang Sekretaris Desa yang hadir di Rembug Stunting, jauh lebih efektif menulis mengapa angka stunting di desa tetap tinggi meskipun anggaran sudah dikucurkan. Fokus pada masalah akses air, mahalnya pupuk, atau jalan rusak akan membuat berita tetap relevan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Gaya Berita Lama (Lemah) Gaya Berita Baru (Kuat)
Kades Pimpin Jumsih di Kebun Temu Tikungan Kebun Temu Rawan Kecelakaan: Warga Tagih Perbaikan Jalan
Sekdes Menghadiri Rembug Stunting Mengapa Program Stunting Desa Gagal Meskipun Anggaran Besar?
Ketua BPD Membuka Turnamen Voli Lapangan Voli Rusak Parah, Pemuda Desak Transparansi Dana Desa

Paradigma baru ini menempatkan tokoh desa bukan sebagai pusat pujian, melainkan bagian dari sistem yang harus mempertanggungjawabkan kinerjanya. Media desa harus menjadi oasis informasi yang autentik dan kontekstual, bukan sekadar etalase bagi para elit desa untuk bersolek citra.

Masa Depan Media Desa
Jurnalisme desa memiliki peluang besar dengan 80 ribu desa di Indonesia yang masing-masing punya cerita unik. Namun, potensi ini akan mati jika pengelola media masih merasa bangga dengan berita seremoni harian. Perlu keberanian untuk menulis tentang perlawanan warga dan solusi mandiri yang muncul dari bawah.

Hanya dengan cara inilah media desa bisa bertahan di era digital. Pilihan ada di tangan pengelola: tetap menjadi pemuja aparat yang membosankan atau bertransformasi menjadi pembela kepentingan warga yang disegani dan kredibel.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 6 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kunjungan Widiyanti Putri Wardhana ke Bukittinggi: Pesona Sudah Diakui, Kesiapan Masih Diuji

1 Mei 2026 - 06:10 WIB

Informasi Berkualitas Hak Mutlak Warga Desa

30 April 2026 - 14:30 WIB

Kapitalisme Rakus Bakal Menelan Habis Desa Pesisir Kita

29 April 2026 - 02:09 WIB

Jangan Cuma Jual Berita: Desa Wajib Ciptakan Peristiwa

27 April 2026 - 19:56 WIB

Stop Seremoni Mangrove: Jangan Jadikan Laut Desa Pemakaman Bibit

27 April 2026 - 07:16 WIB

Saat Suara Desa Terbungkam oleh “Akal Sehat” Kota

26 April 2026 - 16:32 WIB

Trending di OPINI