Opini [DESA MERDEKA] – Sumatera Barat bergerak. Jalan tol diperluas, flyover direncanakan, dan proyek-proyek infrastruktur terlihat di mana-mana. Namun, di balik gemuruh pembangunan, banyak yang bertanya: apakah perubahan itu benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat?
Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada 2025 tercatat sekitar 3,37 persen, lebih rendah dari rata-rata nasional dan beberapa daerah di Sumatera. (Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sumatera Barat). Angka ini menunjukkan ekonomi masih tumbuh, tetapi perlambatan yang konsisten mengindikasikan persoalan struktural, bukan sekadar fluktuasi sementara.
Struktur ekonomi daerah masih didominasi sektor primer seperti pertanian dan jasa sederhana, sementara hilirisasi dan industri pengolahan masih terbatas. Pendapatan Asli Daerah relatif kecil, sehingga ketergantungan pada belanja pemerintah tinggi dan ruang fiskal untuk mempercepat pembangunan terbatas.
Para ekonom menyoroti hal ini. Hefrizal Handra, dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, menyatakan bahwa perlambatan ekonomi Sumatera Barat mencerminkan kelemahan struktural yang membutuhkan reformasi agar ekonomi daerah mampu bertransisi dari dominasi sektor primer ke sektor bernilai tambah tinggi. Ekonom Unand lainnya, Efa Yonnedi, menekankan bahwa pertumbuhan tidak cukup hanya pada angka, melainkan harus mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah daerah mengakui tantangan ini. Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat menegaskan bahwa percepatan pembangunan tidak hanya bergantung pada proyek, tetapi pada kesiapan masyarakat dan kemampuan daerah memanfaatkan potensi lokal, termasuk pariwisata, kelautan, dan energi terbarukan. Pengembangan UMKM menjadi fondasi penting agar pertumbuhan lebih inklusif dan berkelanjutan.
Risiko bencana juga menjadi hambatan nyata. Banjir, longsor, dan bencana hidrometeorologi lainnya sering mengganggu aktivitas ekonomi dan produktivitas masyarakat, terutama pada akhir 2025. Para ekonom mendorong agar strategi pembangunan juga menekankan mitigasi bencana dan pemulihan ekonomi yang tangguh.
Di sisi positif, pembangunan infrastruktur tetap menjadi prioritas untuk memperkuat konektivitas dan distribusi barang, termasuk proyek flyover dan fasilitas logistic. Pemerintah juga memperkuat pemulihan ekonomi melalui klinik UMKM untuk membantu pelaku usaha kecil dan menengah bangkit pascabencana.
Secara keseluruhan, arah pembangunan Sumatera Barat menunjukkan kombinasi upaya fisik dan penguatan kapasitas masyarakat, namun tetap membutuhkan reformasi struktural. Gerak pembangunan memang terlihat, tetapi manfaatnya belum sepenuhnya terasa merata. Pembangunan yang berhasil bukan hanya yang cepat, tetapi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat—dan di titik itulah Sumatera Barat masih berproses.(DA)
Saya seorang pensiuan berpengalaman di bidang pemerintahan dengan kemampuan analisis dan komunikasi yang baik. Terbiasa bekerja secara tim maupun mandiri, saya selalu berkomitmen memberikan hasil terbaik dan terus belajar untuk berkembang.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.