Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

OPINI · 29 Apr 2026 02:09 WIB ·

Kapitalisme Rakus Bakal Menelan Habis Desa Pesisir Kita


					Kapitalisme Rakus Bakal Menelan Habis Desa Pesisir Kita Perbesar

Opini [DESA MERDEKA] Pembangunan desa sering kali dijual atas nama kemajuan, namun di balik itu, ada ancaman nyata yang siap menelan ruang hidup warga. Benturan antara logika keuntungan cepat (kapitalis) dan kelestarian alam bukan lagi sekadar teori, melainkan perang terbuka di lapangan. Mangrove, yang bagi warga desa adalah benteng nyawa, sering kali hanya dianggap sebagai “lahan kosong” oleh pengusaha yang haus investasi.

Ketegangan fundamental ini sulit diharmonikan. Pengusaha bekerja dengan hitungan laba per kuartal, sementara alam bekerja untuk hitungan generasi. Jika desa menyerahkan ekosistemnya demi efisiensi bisnis, maka warga desa sedang menandatangani surat utang ekologis jangka panjang yang tak akan mampu dibayar oleh uang ganti rugi mana pun.

Investasi Datang, Desa Menanggung Kerusakan
Logika kapitalisme arus utama sering menganggap abrasi, rob, dan hilangnya sumber daya ikan sebagai “eksternalitas”—sesuatu yang tidak perlu masuk dalam neraca keuangan mereka. Sebaliknya, bagi masyarakat pesisir, mangrove yang utuh adalah aset tak ternilai. Konversi lahan mangrove menjadi tambak udang atau kawasan industri mungkin terlihat menguntungkan dalam lima tahun, namun dampaknya akan menghancurkan desa dalam lima puluh tahun ke depan.

Dunia kapitalis tidak punya kesabaran untuk menunggu fungsi ekologis pulih. Mereka bertindak reaktif: baru sadar pentingnya mangrove setelah pabrik mereka terendam rob atau ekspor mereka ditolak pasar global karena isu lingkungan. Kesadaran yang terpaksa ini bukanlah solusi bagi keberlanjutan desa.

Garis Pertahanan Terakhir Warga Desa
Pilihan bagi penggerak desa kini hanya satu: terang-terangan berpihak kepada alam. Ini bukan soal anti-kemajuan, melainkan soal keselamatan. Ketika pengusaha bisa pindah mencari lahan baru setelah alam desa rusak, warga lokal tidak punya pilihan itu. Rumah leluhur, kuburan keluarga, dan sumber penghidupan warga tertanam di sana.

Masyarakat pesisir dan para penggiat tapak adalah garis pertahanan terakhir. Jika kapitalisme dibiarkan tanpa batasan etis, mereka akan memakan habis rumah kita sendiri. Di titik itu, tidak ada lagi solusi saling menguntungkan (win-win solution). Yang tersisa hanyalah kehancuran alam yang diikuti dengan binasanya kehidupan manusia di desa tersebut. Berpihak pada mangrove adalah satu-satunya cara agar desa tidak hilang dari peta.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 6 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Jangan Cuma Jual Berita: Desa Wajib Ciptakan Peristiwa

27 April 2026 - 19:56 WIB

Stop Seremoni Mangrove: Jangan Jadikan Laut Desa Pemakaman Bibit

27 April 2026 - 07:16 WIB

Saat Suara Desa Terbungkam oleh “Akal Sehat” Kota

26 April 2026 - 16:32 WIB

Bahaya Laten Gotong Royong Sandiwara di Desa Kita

18 April 2026 - 09:01 WIB

Ketika Rumah Ibadah Masuk Proyek: Korupsi yang Menyelinap dalam Kesalehan

18 April 2026 - 08:45 WIB

Foto: Kedua tersangka dugaan korupsi ditahan Kejari Klaten. (Achmad Hussein Syauqi/detikJateng)

Hegemoni Kota: Saat Suara Warga Desa Jadi Figuran

15 April 2026 - 21:56 WIB

Trending di OPINI