Opini [DESA MERDEKA] – Kunjungan Menteri Pariwisata ke Bukittinggi bukan sekadar agenda kerja seremonial dua hari. Peristiwa ini adalah sebuah penanda penting: Sumatera Barat kembali masuk dalam radar perhatian pusat. Namun, di saat yang sama, kunjungan ini menjadi cermin yang memperlihatkan wajah pariwisata kita apa adanya—memesona secara visual, tetapi belum sepenuhnya siap secara sistemik.
Kekaguman terhadap Bukittinggi adalah hal yang niscaya. Kota ini tidak hanya indah, tetapi juga padat makna. Jam Gadang, yang berdiri kokoh di jantung kota, melampaui fungsi estetika; ia adalah simpul ingatan kolektif tempat sejarah, identitas, dan ruang publik bertemu. Dari perspektif promosi, Bukittinggi memiliki modalitas paripurna: lanskap yang megah, akar budaya yang kuat, dan narasi sejarah yang mendalam.
Namun, justru di titik inilah ujian sesungguhnya dimulai. Pesona yang diakui dunia tidak otomatis berbanding lurus dengan kesiapan infrastruktur dan manajerial.
Antara Simbol Global dan Fondasi Lokal
Ambisi mendorong Jam Gadang menuju pengakuan UNESCO membawa angin segar optimisme, sekaligus menyisakan pertanyaan besar. Pengakuan internasional bukan sekadar soal sertifikat keindahan, melainkan bukti konsistensi dalam pengelolaan: mulai dari konservasi kawasan, ketegasan tata ruang, hingga kapasitas institusi pengelola.
Saat ini, pemerintah daerah tampak masih membagi fokus dengan penyelesaian Geopark Silokek. Publik menangkap adanya strategi yang belum sepenuhnya padu—seolah kita sedang berlari mengejar simbol global sebelum benar-benar menuntaskan fondasi lokal. Tanpa sinkronisasi prioritas, kita berisiko kehilangan keduanya.
Begitu pula dengan rencana menghidupkan kembali Tour de Singkarak (TdS) pada 2027. Sebagai ajang yang pernah menjadi etalase internasional Sumatera Barat, TdS membawa narasi kebangkitan. Namun, lanskap pariwisata hari ini telah berubah total dibandingkan satu dekade lalu. Kompetisi kian ketat dan ekspektasi wisatawan kian personal. Menghidupkan kembali TdS bukan sekadar urusan mencocokkan tanggal di kalender, melainkan soal relevansi konsep. Tanpa pembaruan visi dan kesiapan lintas sektor, TdS hanya akan menjadi nostalgia mahal yang gagal memberikan dampak ekonomi berkelanjutan.
Jebakan Ego Sektoral
Masalah mendasar pariwisata kita terletak pada integrasi. Pernyataan bahwa pariwisata harus dikembangkan secara terintegrasi sering kali hanya menjadi jargon yang menutupi luka lama: pembangunan yang berjalan sendiri-sendiri.
Rencana perpanjangan landasan pacu di Kepulauan Mentawai adalah langkah konkret yang patut diapresiasi. Namun, aksesibilitas hanyalah satu sisi koin. Sisi lainnya adalah kesiapan destinasi. Apa artinya kemudahan akses jika tidak diimbangi dengan kapasitas akomodasi yang memadai dan kualitas layanan yang terstandardisasi? Tanpa integrasi, lonjakan kunjungan justru akan menjadi bumerang yang menekan daya dukung lingkungan dan sosial kawasan.
Hal serupa terlihat dalam upaya mendorong Padang sebagai Kota Gastronomi Dunia. Kuliner Minangkabau memang telah melintasi batas geografis, tetapi pengakuan formal UNESCO menuntut ekosistem yang rapi—mulai dari standardisasi bahan baku, inovasi penyajian, hingga keberlanjutan bagi pelaku usaha kecil. Tanpa ekosistem ini, gastronomi kita hanya akan menjadi cerita lama yang diulang-ulang tanpa nilai tambah baru.
Momentum Berbenah
Sumatera Barat saat ini berada di persimpangan jalan. Kita memiliki kekuatan identitas yang kokoh, namun sedang terengah-engah mengejar akselerasi melalui berbagai ajang dan pengakuan global. Keduanya bukan pilihan yang saling meniadakan, melainkan dua hal yang membutuhkan satu kunci utama: arah kebijakan yang konsisten. Tanpa arah yang jelas, pergerakan pariwisata kita akan terus bersifat sporadis—ramai saat ada acara, lalu sunyi setelahnya.
Kunjungan Menteri Pariwisata harus dijadikan momentum untuk menata ulang prioritas. Kita harus berani bergeser dari sekadar “menjual pesona” menuju “membangun kesiapan”. Dalam industri pariwisata global yang kompetitif, keindahan alam bukan lagi pembeda utama karena banyak daerah lain juga memilikinya. Pembeda yang sesungguhnya adalah kemampuan mengelola keindahan tersebut menjadi pengalaman yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.
Sumatera Barat tidak kekurangan daya tarik. Yang kita butuhkan adalah keberanian kolektif untuk berbenah secara menyeluruh: menyatukan ego sektoral, memperkuat tata kelola berbasis data, dan memperjelas arah pembangunan.
Pesona kita sudah diakui dunia. Kini, saatnya membuktikan bahwa kita memang siap untuk mengelolanya. (DA)
Saya seorang pensiuan berpengalaman di bidang pemerintahan dengan kemampuan analisis dan komunikasi yang baik. Terbiasa bekerja secara tim maupun mandiri, saya selalu berkomitmen memberikan hasil terbaik dan terus belajar untuk berkembang.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.