Menu

Mode Gelap
Korban Bencana Sumatra Capai 303 Jiwa, Sumut Paling Terdampak Akses Darurat dan Data Tunggal Kunci Penanganan Bencana Sumbar Dana Desa Tahap II Gagal Cair, Program Pembangunan Mangkrak 24 Desa Jember Masih Blank Spot, DPRD Desak Diskominfo Pengamanan Ketat Kawal Pencairan Dana Desa Tolikara Berjalan Lancar

RAGAM · 26 Mar 2025 21:01 WIB ·

Tombilotohe: Tradisi Cahaya Ramadhan Gorontalo, Simbol Kebersamaan Abad ke-15


					<em>Tradisi Tombilotohe di Gorontalo, ribuan lampu minyak dan listrik semarakkan malam Ramadhan.</em> Perbesar

Tradisi Tombilotohe di Gorontalo, ribuan lampu minyak dan listrik semarakkan malam Ramadhan.

Gorontalo [DESA MERDEKA] – Menjelang Hari Raya Idulfitri, masyarakat Gorontalo memiliki cara unik menyambut tiga malam terakhir bulan Ramadan. Tradisi ini bernama Tombilotohe. Ribuan lampu, yang menggunakan bahan bakar minyak tanah dan listrik, menghiasi halaman rumah, masjid, serta jalanan desa. Akibatnya, suasana Ramadan di Gorontalo terasa begitu bercahaya dan penuh kehangatan.

Konon, tradisi Tombilotohe telah ada sejak abad ke-15. Awalnya, tradisi ini muncul sebagai upaya menerangi jalan bagi masyarakat yang hendak beribadah di masjid pada malam-malam terakhir Ramadan. Masyarakat percaya malam-malam tersebut sebagai waktu datangnya Lailatul Qadar. Secara etimologis, Tombilotohe berasal dari bahasa Gorontalo. Kata “tombi” memiliki arti memasang, sementara “tohe” berarti lampu.

Seiring berjalannya waktu, Tombilotohe bertransformasi menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Gorontalo. Tradisi ini mengandung makna religius yang mendalam. Dahulu, masyarakat hanya menggunakan lampu minyak kelapa atau minyak tanah. Namun kini, inovasi lampu listrik dengan berbagai warna dan hiasan khas turut menambah semarak perayaan tradisi ini.

Pemerintah daerah dan masyarakat Gorontalo bekerja sama erat untuk melestarikan tradisi Tombilotohe. Setiap tahun, berbagai desa dan kelurahan mengadakan perlombaan. Mereka berlomba menciptakan instalasi Tombilotohe yang paling indah dan menarik.

“Tombilotohe bukan hanya sekadar perayaan biasa,” ungkap seorang tokoh masyarakat Gorontalo. “Lebih dari itu, tradisi ini adalah simbol kebersamaan, gotong royong, dan pengingat akan pentingnya meningkatkan ibadah di penghujung bulan Ramadan yang suci.”

Semangat gotong royong dan kebersamaan yang terpancar dalam tradisi ini terus dijaga oleh masyarakat Gorontalo. Dengan demikian, Tombilotohe tetap lestari sebagai warisan budaya yang tak lekang dimakan zaman.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Rumah Warga Gunungsindur Ambruk, Sudah Masuk Data Rutilahu

4 Desember 2025 - 17:39 WIB

Listrik Pulih 100 Persen, Sumbar Percepat Pemulihan Pascabencana

4 Desember 2025 - 10:21 WIB

Kasus HIV Selayar 2025 Meningkat, Pemerintah Diminta Bertindak

3 Desember 2025 - 22:08 WIB

LSM KANe Malut Resmi Diakui Pusat, Siap Jadi Mitra Pemerintah

3 Desember 2025 - 16:15 WIB

Bencana Ancam Harga, Sumbar Gelar Gerakan Pangan Murah

1 Desember 2025 - 22:00 WIB

Posyandu ILP Banaran Setiap Bulan Layani 180 Balita dan Lansia

1 Desember 2025 - 20:02 WIB

Trending di RAGAM