Gorontalo [DESA MERDEKA] – Menjelang Hari Raya Idulfitri, masyarakat Gorontalo memiliki cara unik menyambut tiga malam terakhir bulan Ramadan. Tradisi ini bernama Tombilotohe. Ribuan lampu, yang menggunakan bahan bakar minyak tanah dan listrik, menghiasi halaman rumah, masjid, serta jalanan desa. Akibatnya, suasana Ramadan di Gorontalo terasa begitu bercahaya dan penuh kehangatan.
Konon, tradisi Tombilotohe telah ada sejak abad ke-15. Awalnya, tradisi ini muncul sebagai upaya menerangi jalan bagi masyarakat yang hendak beribadah di masjid pada malam-malam terakhir Ramadan. Masyarakat percaya malam-malam tersebut sebagai waktu datangnya Lailatul Qadar. Secara etimologis, Tombilotohe berasal dari bahasa Gorontalo. Kata “tombi” memiliki arti memasang, sementara “tohe” berarti lampu.
Seiring berjalannya waktu, Tombilotohe bertransformasi menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Gorontalo. Tradisi ini mengandung makna religius yang mendalam. Dahulu, masyarakat hanya menggunakan lampu minyak kelapa atau minyak tanah. Namun kini, inovasi lampu listrik dengan berbagai warna dan hiasan khas turut menambah semarak perayaan tradisi ini.
Pemerintah daerah dan masyarakat Gorontalo bekerja sama erat untuk melestarikan tradisi Tombilotohe. Setiap tahun, berbagai desa dan kelurahan mengadakan perlombaan. Mereka berlomba menciptakan instalasi Tombilotohe yang paling indah dan menarik.
“Tombilotohe bukan hanya sekadar perayaan biasa,” ungkap seorang tokoh masyarakat Gorontalo. “Lebih dari itu, tradisi ini adalah simbol kebersamaan, gotong royong, dan pengingat akan pentingnya meningkatkan ibadah di penghujung bulan Ramadan yang suci.”
Semangat gotong royong dan kebersamaan yang terpancar dalam tradisi ini terus dijaga oleh masyarakat Gorontalo. Dengan demikian, Tombilotohe tetap lestari sebagai warisan budaya yang tak lekang dimakan zaman.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.