Benteng Oranje Ternate Jadi Saksi Pentingnya Sanitasi dan Sejarah Kota Inklusif
Ternate, Maluku Utara [DESA MERDEKA] – Pemerintah Kota Ternate kembali dipercaya menjadi tuan rumah acara nasional dengan menggelar City Sanitation Summit (CSS) 2025 pada 29–30 Agustus. Forum akbar ini mempertemukan 24 kepala daerah dari berbagai wilayah di Indonesia, serta perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Badan Gizi Nasional (BGN), menegaskan komitmen pemerintah pusat terhadap isu sanitasi dan lingkungan.
Yang menarik, acara penting ini mengambil lokasi utama di Benteng Oranje, situs bersejarah peringkat nasional. Pemilihan lokasi ini memberikan makna ganda, yakni sebagai model tata kelola infrastruktur sanitasi perkotaan yang berakar dari warisan kolonial, sekaligus cerminan sejarah panjang Ternate sebagai kota multikultural dan inklusif.

Sanitasi Berbasis Warisan Kolonial
Pengelola Museum Rempah dan Museum Sejarah Ternate, Rinto Taib, menyatakan kesiapan penuh menyambut para tamu kepala daerah. Menurut Rinto, pemanfaatan Benteng Oranje dalam gelaran CSS 2025 adalah momen istimewa. Hal ini bukan sekadar seremoni pemerintahan, melainkan perwujudan nyata dari pemanfaatan cagar budaya dalam konteks tata kelola infrastruktur sanitasi perkotaan.
Rinto menjelaskan, tata kelola infrastruktur sanitasi yang ada di Ternate sebagian besar merupakan warisan kolonial. Hal ini menjadi bukti bahwa Kota Ternate memiliki fondasi kuat dalam pengelolaan infrastruktur, yang kini dapat diapresiasi dan menjadi permodelan bagi kota lain.
“Pemanfaatan ruang pusaka Benteng Oranje sebagai cagar budaya peringkat nasional dalam gelaran acara ini menjadi sebuah permodelan istimewa,” ujar Rinto. “Ini menegaskan identitas Ternate sebagai kota rempah yang kaya akan sejarah dan peradaban, yang juga memprioritaskan perilaku hidup sehat dan lingkungan.”

Benteng Oranje: Simbol Pluralitas dan Keberlanjutan
Di luar aspek teknis sanitasi, acara ini juga memiliki dimensi historis dan sosial yang mendalam. Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Ternate, Nuryadin Rahman, melihat gelaran CSS 2025 di situs sejarah perjuangan bangsa ini sebagai refleksi penting. Kehadiran para kepala daerah di Benteng Oranje, yang dulunya dikenal sebagai Benteng Malayo, secara tidak langsung mengingatkan pada eksistensi Kota Ternate sejak dahulu sebagai kota inklusif bagi pluralitas.

Benteng ini bukan hanya sekadar bangunan fisik atau benteng militer, melainkan sebuah simbol hidup dari mozaik masyarakat Ternate. Sejak masa kolonial hingga kini, kota ini telah menjadi wadah bagi berbagai etnis dan budaya yang hidup berdampingan, membentuk wajah Ternate yang terbuka dan toleran. Nilai keberagaman ini sangat relevan dalam konteks pembangunan bangsa saat ini.

Dengan merangkul situs bersejarah seperti Benteng Oranje, Ternate tidak hanya memperlihatkan kekayaan budayanya, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai kota yang memprioritaskan keberlanjutan dan prinsip-prinsip ekologis. Perpaduan antara sejarah dan modernitas ini menjadi model ideal bagi kota-kota lain dalam mengelola warisan budaya mereka. CSS 2025 di Ternate, dengan demikian, sukses menjadi perayaan makna ganda: menyoroti pentingnya tata kelola sanitasi yang baik dan menegaskan kembali Ternate sebagai benteng peradaban yang merayakan keragaman.

Benteng ini tidak hanya sekadar bangunan fisik, melainkan sebuah simbol hidup dari mozaik masyarakat Ternate. Sejak masa kolonial hingga kini, kota ini telah menjadi wadah bagi berbagai etnis dan budaya yang hidup berdampingan. Keberagaman ini membentuk wajah Ternate yang inklusif dan terbuka, sebuah nilai yang relevan dalam konteks pembangunan bangsa saat ini. Oleh karena itu, Benteng Oranje bukan hanya benteng militer, melainkan benteng peradaban yang merayakan keragaman dan toleransi.
Dengan demikian, CSS 2025 di Ternate bukan sekadar forum teknis tentang sanitasi, melainkan sebuah perayaan makna ganda. Di satu sisi, acara ini menyoroti pentingnya tata kelola sanitasi yang baik, mengadopsi model yang bahkan berakar dari masa lampau. Di sisi lain, ia menegaskan kembali Ternate sebagai kota yang inklusif, tempat di mana sejarah, pluralitas, dan keberlanjutan saling berjalin erat.

Activity:
•Reporter •Advocate (Kandidat Notaris PPAT) •Konsultan Pendidikan Nawala Education (Overseas Study Advisor – Nawala Education) •Lecturer
Experience:
•Reporter & News Anchor TVRI •Medical Reps. Eisai Indonesia •HRD Metro Selular Nusantara
***
“Penghargaan paling tinggi bagi seorang pekerja keras bukanlah apa yang dia peroleh dari pekerjaan itu, tapi seberapa berkembang ia dengan kerja kerasnya itu.” – John Ruskin


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.