Badung, Bali [DESA MERDEKA] – Di tangan generasi muda Banjar Adat Jeroan, Desa Dalung, pelestarian budaya Bali tidak lagi sekadar wacana, melainkan perayaan kreatif yang memukau. Melalui gelaran perdana TEKAD Festival 1, Sekaa Teruna (ST) Tri Eka Dharma berhasil menyulap Wantilan Kertha Kencana menjadi ruang pameran seni “raksasa kecil” dalam balutan Lomba Ogoh-ogoh Mini dan Tapel.
Kegiatan yang memuncak pada Minggu (1/2/2026) ini sekaligus menandai usia ke-60 tahun ST. Tri Eka Dharma. Alih-alih merayakannya dengan pesta pora, para yowana (pemuda) memilih tema “Utthana Yowana, Raksa Samskrti” yang bermakna membangkitkan jiwa muda untuk memelihara budaya luhur. Langkah ini menjadi bukti bahwa usia enam dekade bagi organisasi pemuda di Dalung adalah momentum kematangan dalam berkarya.
Seni Ogoh-ogoh dalam Genggaman
TEKAD Festival 1 menarik perhatian publik dengan memamerkan 51 karya seni yang presisi dan detail. Dari total tersebut, terdapat 28 karya tapel ogoh-ogoh, 9 ogoh-ogoh mini bermesin, dan 14 kategori non-mesin. Detail halus pada setiap karya menunjukkan bahwa keahlian memahat dan mengonstruksi ogoh-ogoh kini telah dikuasai generasi muda dalam skala yang lebih kecil namun tetap berjiwa.
Ketua Panitia, I Gusti Ngurah Agung Rai Ramanatha, menekankan bahwa festival ini adalah wadah sportivitas. “Kami ingin memberikan manfaat positif dan mempererat persaudaraan melalui kreativitas yang tetap berlandaskan adat dan budaya Bali,” ungkapnya di sela-sela acara.
Sinergi Lintas Generasi
Keberhasilan acara ini tidak lepas dari dukungan penuh tokoh masyarakat. Kehadiran Perbekel Dalung, I Gede Putu Arif Wiratya, serta Bendesa Adat Padang Luwih, I Ketut Adi Ardana, menunjukkan adanya restu dan sinergi yang kuat antara pemerintah desa, adat, dan kaum muda. Pengamanan dari Bhabinkamtibmas serta Pecalang Desa Adat Padang Luwih pun memastikan malam puncak HUT ke-60 ini berjalan khidmat dan tertib.
Malam puncak tersebut bukan sekadar seremoni pemotongan tumpeng, melainkan simbol rasa syukur atas napas organisasi yang tetap bergelora selama 60 tahun. Bagi masyarakat Dalung, TEKAD Festival adalah alarm pengingat: selama kreativitas pemuda tetap berakar pada tradisi, budaya Bali tidak akan pernah pudar ditelan zaman.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.