Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

EKONOMI BISNIS · 17 Sep 2025 21:08 WIB ·

Tangan Kreatif Kokos Trisada Sulap Limbah Jadi Cuan


					Tangan Kreatif Kokos Trisada Sulap Limbah Jadi Cuan Perbesar

Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Di tengah gempuran produk impor, seorang pelaku industri kreatif di Kabupaten Semarang, Kokos Trisada, membuktikan bahwa limbah dan bahan alam bisa menjadi komoditas bernilai tinggi. Lewat merek usahanya, Tangankoe, Kokos berhasil menciptakan berbagai kerajinan tangan yang diminati pasar internasional, dari sandal etnik hingga aksesori unik berbahan batok kelapa dan eceng gondok.

Didirikan pada 16 September 2023 di Ungaran Timur, Tangankoe berfokus pada produk fashion craft dengan memanfaatkan limbah seperti ban bekas dan celana jins bekas, serta bahan alam melimpah di sekitar Kabupaten Semarang, yaitu eceng gondok. Konsep yang diusung pun unik, yaitu EDAN, akronim dari Etnik, Different, Autentik, dan Natural.

“Produk kami etnik karena berbeda dari yang lain, otentik karena semua prosesnya dikerjakan sendiri, dan natural karena menggunakan bahan alam lokal,” ujar Kokos. Ia menekankan bahwa kunci sukses dalam industri kreatif adalah menghasilkan produk yang berbeda dan memiliki nilai otentik.

Salah satu produk andalannya adalah sandal etnik yang kini 80-90% penjualannya diekspor ke luar negeri. Selain itu, dalam dua bulan terakhir, Kokos juga mengembangkan produk dari batok kelapa bekas yang ia temukan di Pasar Bandarjo. Hanya dengan modal Rp30.000 untuk satu karung berisi 130 batok, ia mampu menyulap limbah tersebut menjadi kalung, gantungan kunci, dan dekorasi meja yang telah terjual ke tujuh negara, termasuk Amerika, Australia, dan Korea. Harga jualnya pun fantastis, berkisar antara 5 hingga 40 dolar AS per buah.

Kokos menjelaskan, produknya sangat diminati wisatawan mancanegara, terutama karena ukurannya yang ringkas dan ringan, cocok untuk oleh-oleh. Hal ini sejalan dengan tren pembatasan bagasi penerbangan internasional. Ia juga menambahkan sentuhan kearifan lokal dengan mengombinasikan kerajinan batok kelapa dan eceng gondok. Sebagai gulma ikonik Rawa Pening, eceng gondok diberi perlakuan khusus agar awet dan menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap produk Tangankoe.

Lewat usahanya, Kokos yang telah berkecimpung selama 25 tahun di industri kreatif, mengajak generasi muda untuk lebih berani berkreasi. Ia bahkan menawarkan diri untuk berbagi ilmu dan bersinergi dengan para pemuda, mulai dari proses pembuatan hingga strategi penjualan, khususnya di pasar Bali.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 65 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

KUB PMPL Desak KPPU Usut Jerat Utang PT PCP di Kaltara

16 Oktober 2026 - 17:52 WIB

Data BPS Diabaikan, Pelatihan UMKM Sumbar Terjebak Rutinitas Seremonial

13 Oktober 2026 - 06:15 WIB

Mengubah Layanan UMKM Sumbar Menjadi Produk Laris Manis

9 Oktober 2026 - 21:36 WIB

Stimulan Rp115 Miliar Sumbar: Proyek Mubazir Tanpa Pembeli Siaga?

3 Oktober 2026 - 11:01 WIB

Membedah “Karpet Merah” Ekosistem Kendaraan Listrik di Ranah Minang

2 Oktober 2026 - 15:22 WIB

Paramadina Dorong Pemuda Cerdas Finansial dan Amankan Data

3 September 2026 - 06:03 WIB

Trending di EKONOMI BISNIS