Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

OPINI · 15 Jun 2025 20:59 WIB ·

Surau, Lapau, dan Rantau: Pilar Lelaki Minang yang Harus Dihidupkan Kembali


					Surau, Lapau, dan Rantau: Pilar Lelaki Minang yang Harus Dihidupkan Kembali Perbesar

Oleh: Patriot Rieldo Perdana, Rajo Nan Sati (Aktivis muda Minang/Ketua Gerakan Milenial Indonesia Provinsi Sumatera Barat)

Opini [DESA MERDEKA] – Budaya Minangkabau mengenal falsafah mendalam: anak dipangku, kamanakan dibimbing, urang kampuang dipatenggangkan. Dalam kerangka ini, laki-laki Minang tidak hanya dibentuk oleh garis keturunan ibunya, tetapi juga oleh tiga institusi sosial yang menempanya sejak muda: surau, lapau, dan rantau.

Ketiganya bukan sekadar tempat, melainkan pilar pendidikan nonformal yang membentuk karakter, spiritualitas, dan kemandirian seorang lelaki Minang. Namun, di tengah derasnya arus modernisasi, digitalisasi, dan globalisasi, peran ketiganya mulai kabur. Pertanyaannya: masihkah nilai-nilai itu hidup dalam diri pemuda Minang hari ini?

Surau: Sekolah Moral yang Mulai Sunyi

Dahulu, surau menjadi tempat utama mendidik anak laki-laki. Mereka tinggal di sana, belajar mengaji, menyerap nilai-nilai agama, adat, bahkan bela diri seperti silek. Surau menjadi pusat pembentukan akhlak dan spiritualitas, sebelum mengenal dunia luar.

Hari ini, peran surau mengalami kemunduran. Banyak pemuda lebih akrab dengan konten daring ketimbang dengan suara guru mengaji. Fungsi surau kini cenderung terbatas pada tempat salat, bukan tempat menempa watak dan akhlak. Hal ini menjadi ironi budaya: ketika anak muda menghadapi krisis moral, institusi yang seharusnya menjadi penawarnya justru semakin dilupakan.

Namun harapan belum sirna. Di beberapa daerah, muncul kembali surau modern—komunitas kecil berbasis spiritualitas dan adat yang mulai menghidupkan kembali tradisi belajar yang hangat dan membumi.

Lapau: Ruang Diskusi yang Kehilangan Substansi

Lapau dulu bukan hanya tempat minum kopi. Ia adalah “universitas rakyat”—tempat berdiskusi tentang nagari, menyampaikan aspirasi, belajar berbicara, dan menyusun gagasan. Dari lapau lahir cerdik pandai, tokoh masyarakat, dan pemimpin yang matang dalam berpikir.

Kini, lapau masih ramai, tetapi kerap kehilangan isi. Diskusi produktif digantikan obrolan tak bermutu, hoaks, dan perdebatan politik yang tidak mendidik. Bahkan, lapau digital di media sosial pun seringkali hanya jadi ruang gaduh tanpa etika.

Laki-laki muda Minang perlu merebut kembali makna lapau sebagai ruang berpikir kritis dan berdialektika, bukan sekadar tempat nongkrong dan bergunjing. Budaya beradu gagasan dengan santun adalah warisan yang patut dijaga, bukan ditinggalkan.

Rantau: Arena Ujian yang Tak Lagi Sakral

“Karatau madang di hulu, babuah babungo balun, ka rantau bujang dahulu di rumah paguno balun.” 

Rantau adalah medan ujian sejati bagi laki-laki Minang. Sejak muda mereka dilepas merantau untuk menguji kemandirian, mencari ilmu, membangun usaha, lalu kembali membawa manfaat bagi kampung halaman. Filosofi “basakik-sakik dahulu, basanang-sanak kemudian, barugi mangko balabo” telah melahirkan diaspora Minang yang tangguh dan berdaya saing.

Sayangnya, nilai ini perlahan tergerus. Banyak perantau kehilangan arah, tenggelam dalam gaya hidup konsumtif, dan lupa tujuan awalnya. Sebagian enggan pulang, sebagian lagi pulang tanpa kontribusi. Rantau tidak lagi dimaknai sebagai ladang perjuangan, tetapi sekadar tempat pelarian dari himpitan ekonomi atau sosial.

Di sisi lain, muncul juga kebangkitan: generasi muda Minang yang pulang kampung, membangun UMKM, memajukan nagari dengan teknologi dan jejaring digital. Inilah semangat rantau yang harus ditumbuhkan kembali—berdikari, berakar, dan berdampak.

Penutup: Saatnya Revitalisasi Budaya Lelaki Minang

Surau, lapau, dan rantau bukan warisan mati. Mereka adalah sistem pendidikan integral yang membentuk pribadi lelaki Minang: kuat iman, cakap bicara, dan tangguh dalam hidup. Tetapi warisan tanpa aktualisasi hanya akan jadi simbol tanpa makna.

Generasi muda Minang harus menghidupkan kembali nilai-nilai ini dalam konteks kekinian. Surau bisa menjadi ruang pembinaan spiritual yang relevan dengan tantangan zaman. Lapau dapat dihidupkan sebagai forum diskusi lintas generasi yang konstruktif. Dan rantau tetap menjadi medan perjuangan yang terhubung dengan nagari.

Kita tidak kekurangan ruang. Yang kita butuhkan adalah kesadaran untuk kembali ke akar, tanpa kehilangan arah menuju masa depan. Sebab di Minangkabau, laki-laki bukan hanya pewaris budaya, tapi penyangga masa depan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 68 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Bahaya Laten Gotong Royong Sandiwara di Desa Kita

18 April 2026 - 09:01 WIB

Ketika Rumah Ibadah Masuk Proyek: Korupsi yang Menyelinap dalam Kesalehan

18 April 2026 - 08:45 WIB

Foto: Kedua tersangka dugaan korupsi ditahan Kejari Klaten. (Achmad Hussein Syauqi/detikJateng)

Hegemoni Kota: Saat Suara Warga Desa Jadi Figuran

15 April 2026 - 21:56 WIB

Bukan Cuma Musrenbang, Google Kini Bantu Bangun Desa

15 April 2026 - 01:36 WIB

Nasib Plasma Menjelutung: Menanti Keadilan di Tengah Jeratan Hutang

12 April 2026 - 13:05 WIB

Berhenti Jadi Laporan: Saatnya Cerita Desa Bicara Dunia

11 April 2026 - 16:39 WIB

Trending di OPINI