Opini [DESA MERDEKA] – Menjelang Idul Adha, kota-kota besar sering kali disesaki dengan “banjir” hewan kurban. Sapi dan kambing menumpuk di masjid-masjid kawasan elite, sementara di sisi lain, banyak desa pelosok justru kekurangan pasokan daging. Fenomena ini bukan sekadar urusan logistik, melainkan cerminan ketimpangan distribusi yang harus segera dibenahi agar esensi ibadah kurban benar-benar membumi bagi mereka yang paling membutuhkan.
Secara syariat, kurban adalah sarana taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dan pensucian harta. Namun, jika banjir hewan kurban di satu titik menyebabkan daging terbuang karena melebihi kapasitas penyembelihan, maka prinsip tidak mubazir (tabdzir) jelas terlanggar. Allah SWT berfirman bahwa yang sampai kepada-Nya hanyalah ketakwaan, bukan sekadar darah dan dagingnya. Ironisnya, di saat kawasan elite kelebihan stok, desa-desa kumuh atau daerah terpencil sering kali harus berpuas diri dengan porsi yang sangat minim.
Ketimpangan ini juga berimbas pada ekonomi peternak lokal. Banjir pasokan dari pengusaha besar atau impor sering kali menekan harga, membuat peternak kecil di pedesaan kehilangan daya saing. Ini adalah bentuk ketidakadilan struktural. Padahal, jika distribusi hewan kurban dilakukan dengan pemetaan yang benar antara daerah surplus dan daerah minus, peternak desa bisa menjadi garda terdepan sebagai penyedia hewan kurban yang sehat dan terawat.
Untuk mencapai keadilan sosial, diperlukan peran aktif dari panitia pusat seperti Baznas atau Kemenag untuk melakukan pemetaan kebutuhan secara nasional. Hewan-hewan yang berlebih di kota besar idealnya dialokasikan ke wilayah yang lebih membutuhkan, didukung dengan sistem logistik seperti mobil pendingin atau cold storage. Dengan langkah ini, distribusi kurban tidak lagi bersifat sentralistik di masjid-masjid besar, tetapi mengalir bak air yang mengairi seluruh sawah—merata hingga ke pelosok desa.
Berkurban bukanlah ajang gengsi atau sekadar angka statistik kuantitas. Ia adalah manifestasi takaful (saling menopang). Sudah saatnya kita mengubah narasi “banjir” kurban menjadi “aliran” kurban yang terarah. Sebab, berkah kurban yang sejati adalah ketika ia berhasil menyentuh mereka yang paling lapar, bukan sekadar menumpuk di satu kolam lalu meluap sia-sia. Dengan manajemen yang lebih adil, setiap tetes keringat peternak desa dan setiap sen kurban masyarakat kota akan berubah menjadi kekuatan ekonomi dan gizi yang menopang keadilan sosial di seluruh penjuru negeri.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.