Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

OPINI · 3 Okt 2025 18:52 WIB ·

Sumbar: Ekonomi Hijau Berbasis Adat, Potensi dan Tantangan


					Sumbar: Ekonomi Hijau Berbasis Adat, Potensi dan Tantangan Perbesar

Opini [DESA MERDEKA] Sumatera Barat (Sumbar) memiliki kearifan lokal yang unik dalam pengelolaan sumber daya alam. Filosofi “alam takambang jadi guru” serta sistem nagari dengan praktik rimbo larangan, rimbo cadangan, dan rimbo olahan telah menjadi landasan kokoh dalam menjaga kelestarian hutan, sekaligus memperkuat fondasi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat.

Di era modern, kearifan lokal ini mulai dipadukan dengan konsep ekonomi hijau. Pemerintah daerah bersama masyarakat adat, akademisi, dan pelaku usaha menjajaki model pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan. Penerbitan Perda Tanah Ulayat dan Perda Perhutanan Sosial menjadi salah satu langkah konkret yang memperkuat legitimasi masyarakat nagari dalam mengelola hutan.

Sinergi dan Dampak Nyata
Sinergi antarpihak sangat penting agar program ekonomi hijau berbasis adat dapat berjalan berkesinambungan.

Dari aspek ekonomi, pengelolaan hutan nagari memberi dampak nyata, seperti meningkatnya pendapatan petani hutan dan berkembangnya koperasi hijau. Dari sisi sosial, nilai “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” menjadi fondasi moral yang mengikat masyarakat menjaga kelestarian hutan. Sementara itu, dari sisi lingkungan, praktik rimbo dan agroforestri berkontribusi terhadap pelestarian keanekaragaman hayati.

Beberapa inovasi yang lahir dari sinergi tersebut antara lain pengembangan ekowisata halal berbasis adat di Nagari Taram, Kabupaten Lima Puluh Kota, serta pemanfaatan potensi kopi Solok Radjo dan minyak kemenyan di Palembayan Agam. Ekowisata yang dikelola langsung oleh komunitas adat dinilai mampu memperkuat modal sosial, budaya, dan ekonomi tanpa merusak lingkungan.

Selain itu, hadirnya program Nagari Creative Hub dan Generasi Hutan menunjukkan optimisme baru dalam memadukan tradisi dengan teknologi digital. Inovasi ini membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat aktif dalam ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Peran Kunci dan Tantangan
Meskipun demikian, peran media dan akademisi dinilai masih perlu diperkuat. Media berperan memperluas kesadaran publik, sementara akademisi dapat menghadirkan riset dan inovasi teknologi ramah lingkungan.

Pengamat menilai, Sumbar berpotensi menjadi contoh nasional dalam membangun ekonomi ramah lingkungan berbasis adat dan budaya. Namun, tantangan seperti modernisasi, keterlibatan swasta, dan risiko terkikisnya nilai tradisi perlu dikelola dengan bijak.

“Transformasi ekonomi hijau di Sumbar hanya bisa terwujud jika ada kolaborasi erat antar pilar pembangunan, indikator keberlanjutan yang jelas, dan perlindungan terhadap modal sosial budaya masyarakat Minangkabau,” tulis Deddi Ajir, alumni UIN Imam Bonjol Padang, dalam opininya.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 176 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Bikin Berita Desa Pakai HP Kentang dan AI

22 September 2026 - 19:00 WIB

Ubah Website Desa Jadi Media Warga yang Seru

21 September 2026 - 18:52 WIB

Cara Mudah Bikin Tulisan Desa yang Hidup, dengan AI

20 September 2026 - 12:08 WIB

Siasat Ekspor Mikro Desa: Kirim Kiloan Penuh Cuan

19 September 2026 - 13:23 WIB

Dari Sapu Lidi Hingga Daun Salam: Saatnya Desa Berani Ekspor Mikro

18 September 2026 - 23:51 WIB

Pengepungan Sunyi di Pilkades Bantarjaya 2026

15 September 2026 - 19:28 WIB

Trending di OPINI