Opini [DESA MERDEKA] – Jauh sebelum modernisasi merambah pelosok Nusantara, perhatian besar terhadap wilayah pelataran sosiologis masyarakat bawah sudah terekam rapi. Banyak pihak mengira bahwa gerakan mendokumentasikan daerah pinggiran adalah produk kebijakan modern. Padahal, sebuah fakta sejarah dari abad ke-14 membuktikan bahwa tradisi literasi berpusat pada desa sebenarnya telah menjadi bagian dari DNA intelektual bangsa ini sejak era keemasan Kerajaan Majapahit.
Pondasi literasi lokal tersebut terpahat nyata dalam sebuah karya sastra agung yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi (Saka 1287). Selama ini, masyarakat lebih akrab mengenal naskah kuno tersebut dengan nama Nagarakretagama. Namun, catatan arkeologis meluruskan sebuah fakta penting: judul asli yang disematkan oleh sang pujangga sendiri sebenarnya adalah Desawarnana.
Secara harfiah, nama Desawarnana memiliki arti “uraian tentang desa-desa” atau “tulisan tentang daerah”. Nama populer Nagarakretagama, yang berarti “negara dengan tradisi (agama) yang suci”, justru baru diberikan kemudian hari oleh peneliti asal Belanda, J.L.A. Brandes, ketika ia menemukan kembali salinan naskah tersebut pada tahun 1894 di Lombok.
Peralihan nama ini memicu pergeseran cara pandang yang cukup mendasar di kalangan awam. Pilihan Mpu Prapanca untuk menggunakan judul Desawarnana secara eksplisit menunjukkan bahwa orientasi penulisan sang pujangga bergerak ke arah “desa atau wilayah”, bukan sekadar berpusat pada megahnya dinding istana (“negara”). Fakta bahwa seorang intelektual besar pada zamannya memilih untuk memfokuskan amatan pada dinamika daerah—bukan semata-mata memuja-muja figur raja—menjadi bukti autentik yang tidak terbantahkan. Culture atau budaya untuk merekam, menyuarakan, dan menghargai realitas di tingkat lokal sudah hidup sejak lama dalam tradisi berpikir leluhur kita.
Membaca ulang sejarah Desawarnana memberikan sudut pandang baru yang segar bagi para pegiat pembangunan dan pengamat media modern. Narasi ini menegaskan bahwa komunikasi dan pendokumentasian yang berakar dari wilayah pinggiran bukanlah konsep baru yang dipaksakan oleh regulasi kontemporer. Nilai mulia ini telah mengakar kuat dalam peradaban.
Dengan berpijak pada sahihnya fakta historis tersebut, urgensi untuk menghidupkan kembali gerakan literasi berpusat pada desa saat ini memperoleh legitimasi moral dan sejarah yang sangat kokoh. Desa tidak boleh sekadar menjadi objek pembicaraan di hilir, melainkan harus kembali menjadi pusat produksi informasi utama demi keberlanjutan pembangunan Nusantara.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.