Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Di tengah gempuran destinasi wisata modern yang serba instan, Stasiun Tuntang di Kabupaten Semarang justru mengambil langkah berani dengan “mundur” ke masa lalu. Bangunan cagar budaya yang didirikan pada medio 1820-an ini tidak lagi sekadar menjadi tumpukan batu dan kayu tua, melainkan ruang hidup yang memadukan restorasi sejarah dengan pemberdayaan ekonomi lokal.
Alex Alexander Prayogo, mitra pengelola Stasiun Tuntang Resto and Art, mengungkapkan bahwa strateginya dalam mengelola aset KAI Wisata ini adalah dengan menghidupkan kembali “roh” bangunan. Sudut pandang ini menempatkan stasiun bukan hanya sebagai tempat transit kereta wisata Ambarawa–Tuntang, tetapi sebagai pusat pelestarian budaya Jawa yang otentik.
“Kami tidak ingin bangunan ini mati. Mandat kami adalah mengembalikan roh stasiun seperti masa kolonial, di mana ada interaksi seni, kuliner lokal, dan sejarah yang saling mengunci,” ujar Alex saat ditemui di kawasan Stasiun Tuntang, Jumat (16/01/2026).

Lonjakan Wisatawan dan Keajaiban Kereta Uap
Strategi “wisata rasa masa lalu” ini terbukti efektif. Sepanjang libur Nataru kemarin, kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik melonjak hingga 75%. Wisatawan rela mengantre demi merasakan sensasi menaiki kereta uap berusia ratusan tahun yang berjalan santai dengan kecepatan 15 km/jam, membelah pemandangan eksotis Rawa Pening.
Daya tarik utama lainnya adalah kehadiran gerbong eksklusif berkode “AR”. Gerbong legendaris ini sering disebut sebagai “Mercedes-nya Kereta Api” karena suspensinya yang sangat empuk dan interiornya yang mewah, menyerupai gerbong kepresidenan zaman dulu yang pernah dinaiki Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Ekonomi Kerakyatan Berbasis ‘Handarbeni’
Keunikan Stasiun Tuntang terletak pada kolaborasi harmonis dengan masyarakat sekitar. Alex melibatkan UMKM lokal untuk menjajakan panganan tradisional—mulai dari jajan pasar hingga ikan segar dari Sungai Tuntang—yang disajikan tanpa sentuhan modernitas yang berlebihan.
Bahkan, lulusan muda seperti Ulfa, seorang penari dari UIN Salatiga, rutin mementaskan Tari Semarangan untuk menyambut wisatawan mancanegara. Hal ini menciptakan ekosistem di mana budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga menjadi sumber penghasilan.
“Prinsip kami adalah Handarbeni atau rasa memiliki. Warga tidak hanya berjualan, mereka juga diajarkan merawat bangunan kuno ini. Membeli tiket di sini berarti Anda ikut menjaga napas sejarah agar tetap tersambung ke generasi mendatang,” tambah Alex.
Ke depan, pengembangan Stasiun Tuntang akan mencakup fasilitas vila berbasis rumah dinas peninggalan Belanda dan wisata air (dermaga) untuk memperkuat posisi Kabupaten Semarang sebagai destinasi wisata sejarah kelas dunia.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.