Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 9 Mar 2026 16:28 WIB ·

Srikandi Sumatera: Garda Terdepan Penolong Bencana yang Terabaikan


					Keteguhan Hati Perempuan Sumatera: Bangkit dari Bencana, Merajut Asa, Sabtu (7/3/2026) secara Virtual melalui platform Zoom Meeting. Perbesar

Keteguhan Hati Perempuan Sumatera: Bangkit dari Bencana, Merajut Asa, Sabtu (7/3/2026) secara Virtual melalui platform Zoom Meeting.

Padang Pariaman, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] Narasi lama yang menempatkan perempuan hanya sebagai objek bantuan saat bencana kini resmi dipatahkan. Dalam peringatan Hari Perempuan Sedunia yang digelar Konsorsium PERMAMPU secara virtual, Sabtu (7/3/2026), terungkap fakta bahwa perempuan di Pulau Sumatera telah bertransformasi menjadi pemimpin tangguh di garda terdepan pemulihan bencana.

Sebanyak 312 partisipan dari 10 provinsi berbagi kisah resiliensi yang luar biasa. Meski menjadi kelompok terdampak paling berat, para perempuan akar rumput ini justru menjadi penggerak dapur umum hingga koordinator evakuasi bagi kelompok rentan.

Resiliensi di Balik Trauma
Kisah nyata datang dari Nurbaeti di Aceh Tamiang. Meski rumahnya hancur dan mengalami trauma mendalam karena hampir kehilangan anak kembarnya, ia tetap memimpin pengelolaan dapur umum bagi warga. Begitu pula Evi, seorang ibu penyandang disabilitas di Sumatera Barat, yang tidak hanya menyelamatkan keluarganya tetapi juga mengoordinasikan bantuan melalui jaringan kemanusiaan.

“Kepemimpinan perempuan adalah kunci penanganan bencana yang inklusif. Tanpa partisipasi mereka, pemenuhan hak kelompok marginal mustahil tercapai,” tegas Ela Hasanah dari INKLUSI dalam pertemuan tersebut.

Kritik Tajam Terhadap Kelalaian Negara
Sayangnya, aksi heroik perempuan Sumatera ini belum mendapat dukungan setimpal dari pemerintah. Kebijakan mitigasi dinilai masih “pilih kasih” dan hanya fokus pada daerah dengan jumlah korban besar. Pemerintah bahkan dikritik karena terus menerbitkan izin pengolahan lahan hutan di tengah ancaman bencana ekologis yang nyata.

Lemahnya komitmen ini tecermin dari timpangnya alokasi anggaran pusat. Dari total Rp205 triliun yang diusulkan untuk pemulihan, pemerintah hanya mengucurkan Rp56 triliun. Hal ini dipandang sebagai bukti nyata kurangnya keberpihakan negara terhadap pemulihan Sumatera yang responsif gender.

Mendesak Perubahan Kebijakan
Konsorsium PERMAMPU mengeluarkan tiga seruan utama kepada pemerintah:

  • Pengakuan Resiliensi: Berhenti memandang perempuan hanya sebagai korban dan mulai menghargai kapasitas mereka sebagai pemimpin lokal.
  • Mitigasi Inklusif: Membangun sistem peringatan dini yang bisa diakses oleh lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.
  • Keadilan Anggaran: Mendesak pemerintah untuk serius melakukan konservasi hutan dan mengalokasikan dana rekonstruksi yang memadai.

Solidaritas perempuan Sumatera membuktikan bahwa ketika negara lamban bertindak, persaudaraan dan kepemimpinan akar rumputlah yang menyelamatkan nyawa.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 88 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menjemput Damai Demang Kentol: Kisah Batik Sumberparang Malang

10 Agustus 2026 - 06:48 WIB

Simalakama di Kaki Bromo: Saat Penegak Adat Dibui Hukum Negara

8 Agustus 2026 - 06:26 WIB

Ironi Desa Budaya Bantul Antara Pelestarian Dan Birokrasi

7 Agustus 2026 - 16:11 WIB

Sengketa Lahan Lempuing Jaya dan Sengkarut Arsip Desa

31 Juli 2026 - 20:33 WIB

Nestapa Subari: Sisi Lain Keadilan Restoratif Desa Trangkil

31 Juli 2026 - 07:37 WIB

Minta Maaf Tak Cukup, Sanksi Adat Menanti di Kuranji

30 Juli 2026 - 09:35 WIB

Trending di SOSBUD