Padang Pariaman, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Narasi lama yang menempatkan perempuan hanya sebagai objek bantuan saat bencana kini resmi dipatahkan. Dalam peringatan Hari Perempuan Sedunia yang digelar Konsorsium PERMAMPU secara virtual, Sabtu (7/3/2026), terungkap fakta bahwa perempuan di Pulau Sumatera telah bertransformasi menjadi pemimpin tangguh di garda terdepan pemulihan bencana.
Sebanyak 312 partisipan dari 10 provinsi berbagi kisah resiliensi yang luar biasa. Meski menjadi kelompok terdampak paling berat, para perempuan akar rumput ini justru menjadi penggerak dapur umum hingga koordinator evakuasi bagi kelompok rentan.
Resiliensi di Balik Trauma
Kisah nyata datang dari Nurbaeti di Aceh Tamiang. Meski rumahnya hancur dan mengalami trauma mendalam karena hampir kehilangan anak kembarnya, ia tetap memimpin pengelolaan dapur umum bagi warga. Begitu pula Evi, seorang ibu penyandang disabilitas di Sumatera Barat, yang tidak hanya menyelamatkan keluarganya tetapi juga mengoordinasikan bantuan melalui jaringan kemanusiaan.
“Kepemimpinan perempuan adalah kunci penanganan bencana yang inklusif. Tanpa partisipasi mereka, pemenuhan hak kelompok marginal mustahil tercapai,” tegas Ela Hasanah dari INKLUSI dalam pertemuan tersebut.
Kritik Tajam Terhadap Kelalaian Negara
Sayangnya, aksi heroik perempuan Sumatera ini belum mendapat dukungan setimpal dari pemerintah. Kebijakan mitigasi dinilai masih “pilih kasih” dan hanya fokus pada daerah dengan jumlah korban besar. Pemerintah bahkan dikritik karena terus menerbitkan izin pengolahan lahan hutan di tengah ancaman bencana ekologis yang nyata.
Lemahnya komitmen ini tecermin dari timpangnya alokasi anggaran pusat. Dari total Rp205 triliun yang diusulkan untuk pemulihan, pemerintah hanya mengucurkan Rp56 triliun. Hal ini dipandang sebagai bukti nyata kurangnya keberpihakan negara terhadap pemulihan Sumatera yang responsif gender.
Mendesak Perubahan Kebijakan
Konsorsium PERMAMPU mengeluarkan tiga seruan utama kepada pemerintah:
- Pengakuan Resiliensi: Berhenti memandang perempuan hanya sebagai korban dan mulai menghargai kapasitas mereka sebagai pemimpin lokal.
- Mitigasi Inklusif: Membangun sistem peringatan dini yang bisa diakses oleh lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.
- Keadilan Anggaran: Mendesak pemerintah untuk serius melakukan konservasi hutan dan mengalokasikan dana rekonstruksi yang memadai.
Solidaritas perempuan Sumatera membuktikan bahwa ketika negara lamban bertindak, persaudaraan dan kepemimpinan akar rumputlah yang menyelamatkan nyawa.

Penggiat Desa. Lakukan yang Perlu saja (Prioritas).
Kita Gak perlu memenangkan semua Pertempuran.
Tinggal di Padang Pariaman, Sumatera Barat.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.