Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

PENDIDIKAN · 7 Okt 2023 21:01 WIB ·

Siswa Watuagung Lawan Perundungan Lewat Video Pendek TikTok


					Siswa Watuagung Lawan Perundungan Lewat Video Pendek TikTok Perbesar

Wonogiri, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Siapa sangka obrolan ringan saat jam istirahat sekolah di pelosok Wonogiri bisa berubah menjadi gerakan sosial yang serius. Di SD Negeri 2 Watuagung, Kecamatan Baturetno, siswa kelas 5 dan 6 tidak hanya piawai bermain gawai, tapi juga mampu menginisiasi gerakan anti-perundungan (anti-bullying) melalui kompetisi video amatir yang melibatkan seluruh lapisan kelas.

Menariknya, inisiatif ini bukan instruksi “top-down” dari guru, melainkan murni gagasan siswa yang kemudian difasilitasi oleh sekolah. Dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda, para siswa diajak berdiskusi langsung di ruang kepala sekolah untuk merancang syarat lomba, mulai dari durasi video hingga urusan hadiah.

Kolaborasi Lintas Usia: Kakak Kelas Rangkul Adik Kelas
Aturan main lomba ini cukup unik dan sarat nilai gotong royong. Setiap kelompok yang terdiri dari lima anak diwajibkan memiliki anggota dari kelas yang berbeda. Artinya, siswa kelas tinggi harus mencari dan merangkul adik kelas mereka sebagai rekan setim.

Langkah ini diambil untuk memutus sekat antar-usia dan menanamkan rasa saling menyayangi sejak dini. Bagi siswa yang tidak memiliki ponsel pintar, mereka tetap bisa berkarya dengan bergabung dalam kelompok yang memiliki fasilitas gawai. Strategi ini efektif memastikan inklusivitas tanpa ada anak yang merasa ditinggalkan.

 

Gawai Bukan Musuh: Mengarahkan Jempol ke Hal Positif
Kepala SDN 2 Watuagung, Gito, memilih pendekatan tanpa intervensi berlebihan. Ia menyadari bahwa anak-anak zaman sekarang tidak bisa dilarang menggunakan media sosial. Sebaliknya, sekolah harus menjadi kompas agar jempol-jempol mungil mereka bergerak bijak di platform seperti TikTok dan Instagram.

Bahkan, Gito mengaku belajar banyak dari muridnya. Siswa-siswa seperti Bima, Satria, dan Rana-lah yang mengajari sang kepala sekolah cara mengoperasikan media sosial. Inilah bentuk nyata sekolah ramah anak: ruang di mana ide siswa didengarkan, dihargai, dan diwujudkan sebagai benteng pertahanan melawan aksi perundungan di sekolah desa.

 

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 64 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Siswa SMK Bawen Guncang Dunia Tani Lewat Inovasi

24 April 2026 - 05:45 WIB

Teknologi Pangan: Kunci Siswa SMK Kuasai Pertanian Masa Depan

24 April 2026 - 05:41 WIB

Literasi: Napas Baru bagi Masa Depan Pemuda Sumbar

22 April 2026 - 21:25 WIB

Sinergi Forkopimcam Mojoagung Kawal Ketat Kualitas Gizi di Dapur Garuda Nusantara Lestari

21 April 2026 - 09:56 WIB

Empat Pendekar Dusun Toyogiri: Kuliah Bukan Lagi Momok

19 April 2026 - 08:01 WIB

Gaya Storytelling: Rahasia Siswa SMK Bawa Edamame ke Jakarta

13 April 2026 - 21:40 WIB

Trending di PENDIDIKAN