Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 14 Feb 2026 03:32 WIB ·

Rumah Budaya Lelea: Penjaga Tradisi Ngarot Sejak Tahun 1686


					Rumah Budaya Lelea: Penjaga Tradisi Ngarot Sejak Tahun 1686 Perbesar

Indramayu, Jawa Barat [DESA MERDEKA] – Desa Lelea kini memiliki simbol kedaulatan budaya baru dengan berdirinya Pendopo Kampung Adat Ngarot di Blok Sawah Desa Lelea, Indramayu. Bukan sekadar bangunan kayu dan atap pelana, pendopo ini merupakan manifestasi fisik untuk menjaga tradisi Ngarot yang telah bertahan selama lebih dari tiga abad, tepatnya sejak tahun 1686.

Pemerintah Kabupaten Indramayu menegaskan bahwa keberadaan pendopo ini adalah strategi branding desa sekaligus ruang sakral. Di sini, para Gadis Ngarot (Cuene) dan para Bujang akan berkumpul sebelum melakukan arak-arakan kolosal menyambut musim tanam padi.

Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Indramayu, Kadmidi, yang mewakili Bupati Lucky Hakim, menyebutkan bahwa pendopo ini adalah bentuk komitmen pemerintah dalam mendorong pelestarian budaya berbasis desa.

“Desa adalah penjaga nilai adat. Pendopo ini harus menjadi ruang hidup yang digunakan, dirawat, dan dikembangkan secara kolektif oleh masyarakat,” ujar Kadmidi saat peresmian, Selasa (10/2/2026).

Magnet Wisata dan Ekonomi Kreatif
Sudut pandang menarik dari pembangunan pendopo ini adalah fungsinya yang multifungsi. Selain sebagai pusat ritual syukuran hasil panen, Kuwu Desa Lelea, Raidi, memproyeksikan tempat ini sebagai pusat edukasi bagi generasi muda.

Kehadiran pendopo di tengah area persawahan diharapkan mampu menjadi daya tarik wisata budaya baru di Indramayu. Dengan posisi yang strategis, ruang publik ini berpotensi memicu pertumbuhan ekonomi kreatif melalui berbagai gelaran seni tradisional yang terjadwal.

Menepis Jarak Antar Generasi
Camat Lelea, Atang Suwandi, menambahkan bahwa infrastruktur budaya ini sangat inklusif. Pendopo ini dirancang untuk mempererat silaturahmi antarwarga sekaligus menumbuhkan kebanggaan pada identitas Sunda di kalangan remaja.

Dwi Pandri, salah satu Bujang Desa Lelea, mengungkapkan rasa bangganya terhadap “rumah budaya” baru ini. Ia berharap pendopo tersebut bisa menjadi pusat kegiatan yang aktif bagi generasi sekarang agar tradisi Ngarot tidak sekadar menjadi catatan sejarah, melainkan gaya hidup masyarakat Lelea yang tetap relevan.

Dengan pengakuan sebagai warisan budaya tak benda, Kampung Adat Ngarot kini memiliki wadah representatif untuk menjaga api gotong royong tetap menyala di tengah arus modernisasi.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 32 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Sumpah Pemuda di Obi: Konsolidasi 200 Armada Lokal Melawan Ketimpangan Logistik Desa

29 Oktober 2026 - 12:59 WIB

Menantang Ombak Pesisir Domas Lewat Racikan Probiotik Kampus

22 Oktober 2026 - 15:48 WIB

Gadai Bawah Tangan: Benturan Transaksi Informal dengan Hukum Formal

21 Oktober 2026 - 18:50 WIB

Tragedi Desa Sugi: Trauma Mafia Tanah dan Apatisme Nelayan Mangrove

12 Oktober 2026 - 21:28 WIB

Pasir Pantai Merah Putih Obi Dikeruk Ilegal, APH dan Pemda Didesak Bertindak

3 Oktober 2026 - 10:31 WIB

Bertahan di Ruas Kaputusan: Nestapa dan Resiliensi Warga

29 September 2026 - 16:06 WIB

Trending di RAGAM