Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

OPINI · 10 Apr 2023 13:33 WIB ·

Rekrutmen Parpol Instan Hambat Kemajuan Pembangunan Desa


					Rekrutmen Parpol Instan Hambat Kemajuan Pembangunan Desa Perbesar

Opini [DESA MERDEKA] Warung kopi dan sudut tongkrongan warga di pelosok desa mendadak riuh setiap kali musim pemilihan kepala daerah atau legislatif tiba. Baliho besar berisi foto figur yang mendadak berlabel “Profesional Muda” atau tokoh populer bertebaran di setiap sudut kawasan strategis. Sayangnya, hiruk-pikuk politik ini sering kali mengabaikan satu hal krusial: kapasitas sang calon dalam merumuskan arah pembangunan desa dan daerah.

Fenomena ini menjadi sorotan tajam karena pola rekrutmen partai politik (parpol) saat ini dinilai cenderung instan. Parpol kerap kali membuka pintu bagi siapa saja yang memiliki akses kekuasaan atau modal besar, mulai dari aparatur sipil negara (ASN) yang meniti karier birokrasi, aktivis internal, pengusaha, tokoh agama, hingga selebritis.

Langkah ini diambil demi mendongkrak tingkat elektoral dan perolehan kursi secara instan melalui popularitas figur. Bagi masyarakat bawah, kehadiran para calon ini kerap dianggap sebagai kewajaran semata. Aksi dukungan pun mengalir deras seiring tebaran amunisi kampanye demi membangun citra mengenai latar belakang sang calon, meski pembuktian kapasitas aslinya belum pernah teruji nyata.

Sistem penyerapan figur modal besar yang menyingkirkan kader berkualitas ini memicu ketimpangan intelektual di ruang publik. Akibatnya, lahir para pemimpin dan legislator di tingkat kabupaten, kota, provinsi, hingga pusat yang miskin wawasan pembangunan nasional. Dampak paling nyata langsung dirasakan oleh masyarakat di tingkat tapak: arah kebijakan pembangunan desa menjadi tidak sinkron. Aspirasi masyarakat ingin bergerak ke arah timur, namun kebijakan parpol justru menyuarakannya ke arah barat. Istilahnya, jauh panggang dari apinya.

Kondisi tersebut kian akut karena melanda seluruh poros politik, baik koalisi pemerintah maupun oposisi. Ruang kritik ideal untuk perbaikan kebijakan ekonomi dan sosial menjadi mandek. Tidak ada akselerasi yang sejalan dengan isu riil di tengah masyarakat modern, terutama dalam menghadapi tantangan budaya, agama, dan akselerasi teknologi pada era digitalisasi saat ini.

Meskipun hak memilih dan dipilih dijamin oleh undang-undang, parpol mengemban kewajiban moral untuk mempersiapkan kadernya melalui seminar dan penguatan keilmuan. Calon pemimpin tidak boleh langsung diterjunkan menduduki jabatan publik tanpa bekal integritas, profesionalitas, dan kapabilitas yang tajam di bidangnya.

Parpol yang legitimate semestinya tidak sekadar menjadi mesin pemburu kekuasaan yang eksklusif bagi kelompok kroni tertentu. Jika fungsi ini terus diabaikan, masyarakat akan terus memandang parpol sebagai pembajak suara rakyat yang berjalan menjauh dari esensi harapan publik serta merusak keharmonisan kultur interaksi sosial.

 

Opini diatas merupakan saduran dari artikel yang pernah tayang di  https://www.facebook.com/groups/402622497916418/

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 68 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Warga Menjelutung Layak Dapat Kepastian atas Air yang Mereka Konsumsi

13 Juni 2026 - 10:53 WIB

Mbah Moedjair: Pahlawan Pangan yang “Seharusnya” Mengubah Sejarah Desa

8 Juni 2026 - 14:13 WIB

Jurnalisme Laporan ala Bhabin di Desa: Membunuh Karakter Polisi

8 Juni 2026 - 07:44 WIB

Gotong Royong Digital di Balik Lagu Mas Bahlil Ganteng

1 Juni 2026 - 20:35 WIB

Membongkar Lingkaran Setan Repetisi Berita Bhabinkamtibmas 

30 Mei 2026 - 15:26 WIB

Keadilan Kurban: Mengalirkan Berkah Hingga ke Pelosok Desa

29 Mei 2026 - 21:01 WIB

Trending di OPINI