Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

RAGAM · 18 Agu 2025 14:47 WIB ·

Rayakan Kemerdekaan, Warga Desa Ngargoretno Magelang Basuh Tebing Marmer Merah


					Rayakan Kemerdekaan, Warga Desa Ngargoretno Magelang Basuh Tebing Marmer Merah Perbesar

Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Semarak Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-80 RI di Dusun Karangsari, Desa Ngargoretno, Salaman, Magelang, dirayakan dengan cara yang unik dan penuh makna. Alih-alih hanya menggelar upacara dan lomba, warga setempat memilih untuk melestarikan tradisi lokal dengan menggelar ritual “Ngumbah Tebing” atau membasuh tebing marmer merah dan rumpun bambu. Aksi ini menjadi simbol rasa syukur atas kekayaan alam sekaligus komitmen menjaga lingkungan.

Dari Kirab Tumpeng hingga Ritual Air Suci

Pada Minggu, 17 Agustus 2025 (bertepatan dengan penanggalan Jawa Minggu Legi), kegiatan diawali dengan kirab budaya. Warga mengarak tumpeng menuju sendang Sunan Kalijaga, mata air keramat yang diyakini menyimpan berkah. Dari sendang ini, air diambil untuk disiramkan ke tebing marmer merah, rumpun-rumpun bambu, dan tanaman karangkitri yang tumbuh di sekitar kampung.

Selain untuk alam, air suci ini juga digunakan untuk “ngumbah gaman” atau membersihkan peralatan pertanian seperti cangkul dan sabit, serta “jamas budoyo” atau menyucikan alat musik tradisional. Menurut sesepuh desa, Mbah Ponco, ritual ini memiliki filosofi mendalam. “Ini adalah upaya kami melindungi marmer merah, wujud syukur agar hubungan masyarakat dengan alam terjaga baik dan seimbang,” ujarnya. Tradisi ini juga harapan agar rezeki dari pertanian dan kesenian selalu melimpah.

Perjuangan Melawan Eksploitasi Lewat Bambu

Di balik ritual ini, ada pesan penting yang disampaikan warga: perlawanan terhadap eksploitasi marmer merah. Batuan langka ini menjadi incaran para penambang, padahal keberadaannya sangat vital sebagai penyangga geografis Pegunungan Menoreh yang rawan kekeringan dan longsor.

Untuk menjaga kelestarian, warga menggalakkan Gerakan Konservasi Alam dengan menanami 27 hektar lahan dengan 15.875 bibit bambu secara bertahap. Bambu dipilih karena sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga, dimanfaatkan sebagai material bangunan dan kebutuhan lain. Kini, warga didorong untuk mengolah bambu menjadi produk bernilai ekonomi, agar mereka tidak lagi tergoda untuk menjadikan marmer merah sebagai komoditas tambang.

Kepala Desa Ngargoretno, Dodik Suseno, mendukung penuh ritual ini menjadi tradisi tahunan. “Ritual ini mengandung nilai-nilai baik bagi generasi penerus, agar senantiasa menjaga berkah alam yang sudah ada,” tuturnya. Senada dengan itu, Koordinator Gerakan Konservasi, Soim, berharap inisiatif warga ini bisa menginspirasi desa-desa lain di Pegunungan Menoreh untuk melakukan gerakan serupa.

 

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

AKPERSI Sumatera Selatan Gelar Musdalub dan Pelantikan DPD-DPC 2026–2031, Perkuat Konsolidasi Pers Profesional

28 April 2026 - 23:25 WIB

Aroma Premanisme di Tubuh Dishub Halsel: Oknum Pegawai Diduga Intimidasi Warga, Kadishub Akui Pelaku “Pemain Lama”?

28 April 2026 - 20:05 WIB

Kepala Desa Jarang Ngantor Jadi Ancaman Serius Pembangunan

24 April 2026 - 22:13 WIB

Ekonomi Digital Desa: Koperasi Merah Putih Tembus Pasar Dunia

23 April 2026 - 09:32 WIB

Asa dari Kalaotoa: Saat Bupati Peluk Keluhan Warga

22 April 2026 - 10:54 WIB

Optimisme Petani Selayar: Jagung Bersemi, Kelapa Menanti Data

21 April 2026 - 18:24 WIB

Trending di RAGAM